Kesiapan Guru terhadap Implementasi Kurikulum 2013

KESIAPAN GURU DALAM MENGIMPLEMENTASIKAN KURIKULUM TAHUN 2013

Oleh : Endang Toto Rustanto, S.Pd. (Guru SMA Pasundan Majalaya)

A. Pendahuluan
Dewasa ini pengembangan dunia pendidikan dihadapkan kepada perkembangan yang pesat tentang ilmu pengetahuan dan teknologi di era globalisasi, yang ditandai dengan semakin luasnya imformasi dari berbagai belahan bumi. Namun di sisi lain peradaban kehidupan terdapatnya esensi nilai yang harus dipertahankan, yang menyangkut tatanan sosial. Oleh karena itu, sistem pendidikan dan perbaikan kurikulum dan sistem pendidikan tak bisa ditawar-tawar lagi. Sistem pendidikan kontekstual dengan pendekatan demokratic teaching merupakan alternatif yang diambil secara nasional di bidang pengajaran.
Secara normatif Pembaharuan sistem pendidikan nasional yang berorientasi pada desentralisasi pendidikan, sejalan dengan otonomi daerah tersebut di atas, yakni dengan dikeluarkan Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dan pelaksanaannya diatur oleh PP No. 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Bentuk kongkret penyempurnaan sistem pendidikan nasional tersebut dilaksanakan demokratic teaching dengan pemberlakuan Kurikulum 2004 Berbasis Kompetensi yang berorientasi pada kompetensi siswa yang harus dipahami, dimahiri, dan dikuasai siswa peserta didik. Kemudian diganti dengan Konsepsi differencial competency teaching dengan diberlakukannya Kurikulum 2006 yang berbasis tingkat satuan pendidikan yaitu KTSP yang secara operasional sebagai pelaksanaan desentralisasi pendidikan di tingkat satuan pendidikan sebagai otonomi di bidang pendidikan. Sebagaimana Pengembangan Kurikulum tingkat sekolah tersebut ditetapkan oleh Peraturan Menteri Nomor 22, 23 dan 24 Tahun 2006.
Permasalahan pendidikan yang muncul seiring perkembangan situasi dan kondisi pada tataran operasional pelaksanaan sistem pendidikan Indonesia, pemerintah memandang perlu memperbaharui standar pendidikan nasional dengan diterbitkannya PP nomor 32 tahun 2013 tentang standar nasional pendidikan pengganti Permendiknas 19/2005. Mengiringi kebijakan Pemerintah dalam standar nasional pendidikan tersebut, Kemendikbud menilai perlu dikembangkan kurikulum baru. maka Kementrian Pendidikan dan kebudayaan selanjutnya mengadakan perubahan kurikulum 2006 KTSP menjadi Kurikulum tahun 2013, melalui Permendiknas Nomor 64 s.d. nomor 70 tahun 2013.
Pengembangan kurikulum 2013 dilakukan karena adanya tantangan internal maupun tantangan eksternal (Kemendikbud 2013a). Tantangan internal terkait tuntutan pendidikan yang mengacu pada 8 Standar Nasional Pendidikan dan faktor perkembangan penduduk Indonesia. Tantangan eksternal berkaitan dengan tantangan masa depan, kompetensi yang diperlukan di masa depan, persepsi masyarakat, perkembangan pengetahuan dan pedagogik, serta berbagai fenomena negatif yang mengemuka. Hasil analisis PISA menunjukkan hampir semua siswa Indonesia hanya menguasai pelajaran sampai level 3 saja, sementara negara lain banyak yang sampai level 4, 5, bahkan 6 (Kemendikbud 2013b). Selain itu, fenomena negatif akibat kurangnya karakter yang dimiliki peseta didik menuntut pemberian pendidikan karakter dalam pembelajaran. Pernyataan tersebut didukung presepsi masyarakat bahwa pembelajaran terlalu menitikberatkan pada kognitif, beban siswa terlalu berat, dan kurang bermuatan karakter.
Dalam mengimplementasikan kurikulum, yang jauh lebih penting adalah guru sebagai ujung tombak bahkan bisa menjadi ujung tombok serta garda terdepan dalam pelaksanakan kurikulum. Sebaik apapun kurikulum yang dibuat, jika guru yang menjalankan tidak memiliki kemampuan yang baik, maka kurikulum tersebut tidak akan berjalan dengan baik.
Kompetensi guru bukan saja menguasai apa yang harus dibelajarkan (content) tapi bagaimana membelajarkan siswa yang menantang, menyenangkan, memotivasi, menginspirasi dan memberi ruang kepada siswa untuk melakukan keterampilan proses yaitu mengobservasi, bertanya, mencari tahu, merefleksi sebagaimana dinyatakan filosof Betrand Russel (dikutip oleh Hidayat 2013, h.5) “More important than the curriculum is the question of the methods of teaching and the spirit in which the teaching is given”. Kurikulum penting, tetapi yang tak kalah pentingnya juga adalah bagaimana strategi membelajarkan dan spiritnya. Dengan strategi pembelajaran yang tepat dalam mengimplementasikan kurikulum disertai dengan spirit pendidikan yang selalu menggelora pada setiap guru atau pendidik dan peserta didik, maka proses pendidikan itu sendiri tidak terlepas dari rohnya.
Sebuah kata bijak mengatakan bahwa “At-Thariqatu Afdalu Minal Mad” (Metodologi tidak kalah pentingnya dibanding substansi). Betapapun baiknya kurikulum yang telah dikembangkan, buku pelajaran dan media pembelajaran disediakan serta dilaksanakan Diklat baik Kepala Sekolah, Pengawas, Guru Inti, Guru Pelatih maupun Diklat guru secara massal pada akhirnya berpulang kepada ada tidaknya kemauan dan kesiapan untuk berubah (willingness to change) dari para pemangku kepentingan utama pendidikan tersebut. Kesiapan tersebut meliputi kesiapan perangkat kurikulum, sarana prasarana sekolah, kesiapan anggaran pendidikan, dan terakhir kesiapan guru. Oleh karena itu betapa pentingnya kesiapan guru dalam mengimplementasikan kurikulum itu selain kompetensi, komitmen dan tanggung jawabnya serta kesejahteraan-nya yang harus terjaga.
Kesiapan guru di lapangan akan menjadi faktor penentu implementasi kurikulum baru. Betapapun komprehensif perencanaan pemerintah (kurikulum) pada akhirnyasemua akan bergantung pada mutu dan kulaitas guru di lapangan. Konsep kesiapan guru sebagai kemampuan dan kemauan (ability and¬ willingness) guru untuk memikul tanggung jawab untuk mengarahkan perilaku mereka sendiri. . Guru harus selau berusaha menyesuakan diri dengan kurikulum baru yang dibuat pemerintah. Dengan demikian, kompetensi dan kesiapan guru dalam mengimplementasikan peraturan dan kebijakan pembaharuan kurikulum pendidikan di atas perlu dipertimbangkan.. .
Berdasarkan kurikulum 2013 yang berorientasi pada pendekatan saintific learning, yang diarahkan pada pembelajaran aktif-mencari (pembelajaran siswa aktif mencari semakin diperkuat dengan model pembelajaran pendekatan sains). Kurikulum 2013 bertujuan untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia. (Permendikbud No. 67/2013).
Hal tersebut sedikit berbeda dengan kesiapan dalam implementasi kurikulum sebelumnya yang berdasarkan tingkat satuan pendidikan. Sikdisnas (2012) menyatakan sedikitnya ada dua faktor besar dalam ke berhasilan kurikulum 2013. Faktor penentu pertama yaitu kesesuaian kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan (PTK) dengan kurikulum dan buku teks. Faktor penentu kedua yaitu faktor pendukung yang terdiri dari tiga unsur, yaitu: (i) ketersediaan buku sebagai bahan ajar dan sumber belajar yang mengintegrasikan standar pembentuk kurikulum; (ii) penguatan peran pemerintah dalam pembinaan dan pengawasan; dan (iii) penguatan manajemen dan budaya sekolah.
Elemen yang terkait dalam program pengembangan dan pelaksanaan kurikulum sekaligus sebagai variabel yang turut menentukan terimplementasi system pendidikan nasional pada suatu sekolah, yaitu proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru. Guru merupakan unsur yang dominan sebagai pelaksana kegiatan pembelajaran di kelas. Kurikulum baru menuntut guru untuk melaksanakan pembelajaran yang berbasis tematik integratif. Selain itu, dalam kompetensi pedagogik, guru dituntut untuk memahami karateristik peserta didik, sehingga guru dapat menerapkan pendidikan karakter secara spontan dalam setiap proses pembelajaran agar siswa dapat memenuhi kompetensi sikap. Oleh karena itu, pembelajaran pendekatan sain atau Saintific Learning Aproach tidak hanya kegiatan komunikasi resifrokal, tetapi guru dituntut memliki keesiapan (kemampuan dan kemauan) memanfaatkan media pembelajaran.
Fenomena di lapangan praktis, Hasil Uji Kompetensi Guru pada 2012 lalu seharusnya menjadi cerminan bagaimana kondisi realkualitas guru di lapangan. Hasil UKG tersebut diprediksi sebagian besar guru masih berada di bawah rata-rata nasional. Guru tersertisikasi saja masih ada yang hanya memperoleh nilai 40 dari nilai maksimal 91,12. Ini artinya keempat kompetensi; kompetensi pedagogic, profesional, kepribadian, dan social guru masih sangat rendah. UKG hanya untuk guru yang telah tersertifikasi. Lalu bagaimana dengan guru yang belum tersertikasi. Jika yang tersertikasi saja rendah, bagaimana dengan yang belum sertifikasi.
Guru-guru yang kurang kompeten menurut hasil UKG di atas kini dituntut untuk merubah pendekata, dan teknik mereka dalam mengajar. Mengajar dengan kurikulum lama saja mereka sudah kualahan lalu bagaimana jika mereka harus dituntut untuk mengajar dan mengevaluasi siswa mereka dengan metode dan teknik yang sama sekali baru bagi mereka. Sedangkan, Para guru itulah yang berada di garda terdepan dalam implementasi kurikulum 2013.
Namun merubah paradigma pembelajaran ini tak semudah membalik telapak tangan. Guru di Indonesia sudah terlampau biasa mengajar dengan pendekatan konvensional (ceramah). Siswapun ditempatkan tetap sebagai objek dari transfer ilmu sang guru. Guru-guru Indonesia seakan belum mengajar jika tidak berbicara panjang lebar di depan kelas. Artinya jika ingin merubah paradigm proses pembelajaran maka yang harus dibenahi terlebih dahulu adalah guru. Gurulah yang harus dirubah mindset cara mengajar mereka.
Perubahan pradigma dalam proses pembelajaran dari siswa diberitahu menjadi siswa mencari tahu bukanlah hal yang baru. KBK maupun KTSP dalam konsepnya juga menghendaki siswalah yang lebih aktif di dalam kelas. Namun pada prakteknya tetap saja guru mendominasi kelas. Sehingga siswa tetaplah menjadi bejana kosong yang menunggu untuk disuapi oleh guru mereka. Artinya, dibutuhkan upaya yang serius untuk mentransformasi pandangan para guru dalam mengajar di kelas..
Berbagai uraian di atas menunjukkan kepada kita betapa vital peran dan fungsi guru dalam setiap pergantian kurikulum. Namun pemerintah seakan tutup mata akan hal ini. Mereka terus merubah kurikulm tanpa mempertimbangkan kondisi guru di lapangan. Guru harus selalu berusaha menyesuakan diri dengan kurikulum baru yang dibuat pemerintah. Sebagai contoh, program sertifikasi guru tengah berlangsung saat ini mempersiapkan guru mampuni merencakan dan melaksanakan pembelajaran sesuai KTSP. Mereka diajarkan bagaimana mengembangkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), materi,dan instrumen penilaian yang sesuai dengan KTSP. Namun seiring diterapkannya kurikulum baru semua itu harus diubah lagi.
Berlatar belakang masalah di atas, maka penulis merasa tertarik dan terpanggil untuk meneliti, membahas dan memaparkannya dalam suatu makalah. Pembahas tentang salah satu faktor psikologis yang ingin penulis ketengahkan dalam penulisan ilmiah ini adalah, “ Kesiapan guru dalam Mengimplementasikan Kurikulum 2013”.

B. Pengertian Kurikulum
Setiap interaksi pendidikan formal memiliki rancangan atau kurikulum secara formal dan tertulis, pendidikan di sekolah dilaksanakan secara berencana , sistematis, dan lebih disadari. Kurikulum mempunyai kedudukan sentral dalam seluruh proses pendidikan. Kurikulum mengarahkan segala bentuk aktivitas pendidikan demi tercapainya tujuan-tujuan pendidikan. Menurut Mauritz, 1967 (Dalam Sukmadinata, 2009: 4) Kurikulum merupakan suatu rencana pendidikan, memberikan pedoman, dan pegangan tentang jenis, lingkup, dan urutan isi serta proses pendidikan.
Menurut pandangan lama, kurikulum merupakan kumpulan mata-mata pelajaran yang harus disampaikan guru atau dipelajari oleh siswa. Kurikulum sebagai “.. a racecourse of subject matter to be mastered “ (Zais, 1976: 7). Dan konsep kurikulum itu menjadi anggapan orang sejak lama, bahkan sampai saat ini banyak orang atau guru yang jika ditanya tentang kurikulum akan memberikan jawaban sekitar bidang studi atau sekumpulan mata pelajaran yang harus diajarkan. Lebih khusus, kurikulum lebih dianggap sebagai isi pelajaran.
Pendapat selanjutnya, Caswel dan Cambell (Dalam Sukmadinata, 20092:4) konsep kurikulum lebih menekankan pada pengalaman belajar. “Kurikulum … to be composed of all the experiences children have under the guidance of teacher.” Kurikulum (curriculum) merupakan suatu rencana yang memberikan pedoman atau pegangan dalam proses kegiatan belajar-mengajar, (Sukmadinata, 2009:5).
Kurikulum merupakan inti dari proses pendidikan, karena kurikulum-pengajaran merupakan bidang yang paling langsung berpengaruh terhadap hasil pendidikan, (Sukmadinata, 2009: 55). Dalam pengembangan kurikulum, minimal dapat dibedakan antara desain kurikulum atau kurikulum tertulis ( curriculum plan) dan implementasi kurikulum atau kurikulum perbuatan atau kurikulum fungsional (functioning curriculum). Kurikulum desain adalah suatu rencana pendidikan atau pengajaran, dalam hal ini pelaksanaan rencana itu sudah masuk pengajaran (Sukmadinata, 2009:5). Selanjutnya Robert S. Zais (1976) menjelaskan bahwa Kurikulum bukan hanya merupakan rencana tertulis bagi pengajaran, melainkan sesuatu yang fungsional yang beroperasi dalam kelas, serta memberi pedoman untuk mengatur lingkungan dan kegiatan yang berlangsung di dalam kelas. Rencana tertulis merupakan dokumen kurikulum , sedangkan kurikulum yang dioperasikan di dalam kelas merupakan kurikulum fungsional.

C. Konsep Dasar Kurikulum 2013

Kurikulum berkaitan erat dengan mutu pendidikan, walaupun kurikulum bukanlah satu-satunya faktor yang mempengaruhi mutu pendidikan (Kwartolo 2002). Menurut Nasution (2008) kurikulum adalah sesuatu yang direncanakan sebagai guna mencapai tujuan pendidikan. Kwartolo (2007) menerangkan bahwa ada banyak definisi tentang kurikulum, namun esensinya adalah menghantarkan peserta didik melalui pengalaman belajar agar mereka dapat tumbuh dan berkembang seoptimal mungkin. Hamalik (2008) menyatakan kurikulum adalah program pendidikan yang disediakan oleh lembaga pendidikan (sekolah) bagi siswa. Kurikulum tidak terbatas pada sejumlah mata pelajaran namun semua hal yang dapat mempengaruhi perkembangan siswa. Kurikulum merupakan suatu prencanaan yang memuat isi dan bahan pelajaran, cara, metode atau strategi pembelajaran, dan merupakan pedoman penyeleng-garaan kegiatan belajar mengajar.
Terdapat berbagai tafsiran tentang kurikulum, kurikulum dapat dilihat sebagai produk, program, hal yang diharapkan akan dipelajari siswa, dan sebagai pengalaman siswa (Nasution 2008). Kurikulum dapat dinilai sebagai produk hasil karya para pengembang kurikulum berupa buku maupun pedoman kurikulum.Kurikulum sebagai program yaitu alat untuk mencapai tujuan pendidikan yang mengajarkan berbagai kegiatan yang mempengaruhi perkembangan siswa. Kurikulum juga dianggap sebagai pengetahuan, sikap, dan ketrampilan yang akan dipelajari siswa serta pengalaman pada tiap siswa. Kurikulum selalu berkembang dan pemikiran mengenai kurikulum terjadi secara kontinyu.
Kurikulum tahun 2013 adalah rancang bangun pembelajaran yang didesain untuk mengembangkan potensi peserta didik, bertujuan untuk mewujudkan generasi bangsa Indonesia yang bermartabat, beradab, berbudaya, berkarakter, beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, menjadi warga negara yang demokratis, dan bertanggung jawab yang mulai dioperasikan pada tahun pelajaran 2013/2014 secara bertahap (Kemendikbud 2013c). Menurut Hasan (2013), perkembangan Kurikulum 2013 didasari oleh BNSP 2010 dan adanya pendidikan karakter serta kewirausahaan. Kurikulum ini akan dikembangkan selama kurang lebih lima tahun dari 2010 hingga 2015. Pada tahun 2010 dan 2011 dilakukan kajian mengenai kurikulum. Pada tahun 2012 dilakukan finalisasi dokumen kurikulum. Pada tahun 2013 hingga 2015 dilakukan implementasi dan evaluasi kurikulum di sekolah.
Sebagai landasan pijak filosofis program pengembangan Kurikulum 2013 adalah potensi, peluang yang dimiliki serta kemungkinan kendala yang ada. Pertama, Pendidikan berakar pada budaya bangsa untuk membangun kehidupan bangsa masa kini dan masa mendatang. Pandangan ini menjadikan Kurikulum 2013 dikembangkan berdasarkan budaya bangsa Indonesia yang beragam, diarahkan untuk membangun kehidupan masa kini, dan untuk membangun dasar bagi kehidupan bangsa yang lebih baik di masa depan.. Kedua, Peserta didik adalah pewaris budaya bangsa yang kreatif. Menurut pandangan filosofi ini, prestasi bangsa di berbagai bidang kehidupan di masa lampau adalah sesuatu yang harus termuat dalam isi kurikulum untuk dipelajari peserta didik.. Ketiga, Pendidikan ditujukan untuk mengembangkan kecerdasan intelektual dan kecemerlangan akademik melalui pendidikan disiplin ilmu. Filosofi ini menentukan bahwa isi kurikulum adalah disiplin ilmu dan pembelajaran adalah pembelajaran disiplin ilmu (essentialism). Keempat, Pendidikan untuk membangun kehidupan masa kini dan masa depan yang lebih baik dari masa lalu dengan berbagai kemampuan intelektual, kemampuan berkomunikasi, sikap sosial, kepedulian, dan berpartisipasi untuk membangun kehidupan masyarakat dan bangsa yang lebih baik (experimentalism and social reconstructivism).
Dengan filosofi ini, Kurikulum 2013 bermaksud untuk: (1) mengembangkan pengalaman belajar yang memberikan kesempatan luas bagi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang diperlukan bagi kehidupan di masa kini dan masa depan; (2) memposisikan keunggulan budaya yang dipelajari untuk menimbulkan rasa bangga, diaplikasikan dan dimanifestasikan dalam kehidupan pribadi, dalam interaksi sosial di masyarakat sekitarnya, dan dalam kehidupan berbangsa masa kini; (3) mengembangkan kemampuan intelektual dan kecemerlangan akademik. Dan (4) mengembangkan potensi peserta didik menjadi kemampuan dalam berpikir reflektif bagi penyelesaian masalah sosial di masyarakat, dan untuk membangun kehidupan masyarakat demokratis yang lebih baik.
Kurikulum 2013 dikembangkan dengan melanjutkan pengembang-an kurikulum berbasis kompetensi yang telah dirintis pada tahun 2004 dengan mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan ketrampilan secara terpadu (Kemendikbud 2012). Langkah penguatan tata kelola Kurikulum 2013 terdiri atas: (1) menyiapkan buku pegangan pembelajaran bagi siswa dan guru, (2) menyiapkan guru supaya memahami pemanfaatan sumber belajar yang telah disiapkan dan sumber lain yang dapat mereka manfaatkan, serta (3) memperkuat peran pendampingan dan pemantauan oleh pusat dan daerah pelaksanaan pembelajaran (Hasan 2013). Hal tersebut diterangkan oleh Iskandar (2013), bahwa
penataan kurikulum meliputi perangkat kurikulum, perangkat pembelajaran, dan buku teks sudah dilaksanakan mulai desember 2012 – maret 2013. Untuk implementasi Kurikulum 2013 dilaksanakan mulai juni 2013 dengan penilaian formatif pada juni 2016. Pada penataan dan implementasi Kurikulum 2013 juga didukung sosialisasi, uji publik, pelatihan guru dan tenaga kependidikan.
Elemen perubahan dalam Kurikulum 2013 meliputi perubahan standard kompetensi lulusan, standar proses, standar isi, dan standar penilaian (Kemendikbud 2012). Standar kompetensi lulusan (SKL) dibedakan menjadi domain yaitu domain sikap, ketrampilan, dan pengetahuan. Domain sikap terdiri dari elemen proses, individu, sosial, dan alam. Domain ketrampilan terdiri dan elemen proses, abstrak, dan konkret. Domain pengetahuan terdiri dari elemen proses, objek, dan subjek. Kemendikbud (2013d) menjelaskan prosedur penyusunan KD kurikulum 2013 dengan mengevaluasi SK KD KTSP kemudian mempertahankan SK KD lama yang sesuai dengan SKL Baru dan merevisi SK KD lama disesuaikan dengan SKL baru, serta menyusun SK KD baru.
Iskandar (2013) menerangkan perbedaan dari kurikulum 2013 dengan
kurikulum sebelumnya antara lain.
1. Standar Kompetensi tidak diturunkan dari Standar Isi, namun dari kebutuhan masyarakat.
2. Standar Isi tidak diturunkan dari Standar Kompetensi Lulusan Mata Pelajaran,namun dari Standar Kompetensi Lulusan.
3. Semua mata pelajaran harus berkontribusi terhadap pembentukan sikap,ketrampilan, dan pengetahuan.
4. Kompetensi tidak diturunkan dari mata pelajaran, namun dari kompetensi yang ingin dicapai.
5. Semua mata pelajaran diikat oleh kompetensi inti (tiap kelas).
6. Pengembangan kurikulum sampai pada buku teks dan buku pedoman guru.
Kemendikbud (2013a) menyebutkan elemen perubahan yang terdapat dalam kurikulum 2013 selain yang telah disebutkan di atas antara lain.
1. Adanya peningkatan dan keseimbangan soft skills dan hard skills yang meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan.
2. Mata pelajaran dirancang terkait satu dengan yang lain dan memiliki kompetensi dasar yang diikat oleh kompetensi inti tiap kelas.
3. Perubahan sistem, terdapat mata pelajaran wajib dan mata pelajaran pilihan di tingkat SMA.
4. Terjadi pengurangan matapelajaran yang harus diikuti siswa namun jumlah jam bertambah 1 JP/minggu akibat perubahan pendekatan pembelajaran.
5. Proses Pembelajaran menggunakan Pendekatan Saintifik dan Kontekstual.
6. Proses Penilaian menggunakan Penilaian Otentik (Autentic Assesment).
7. Terdapat ekstra kulikuler di SMA antara lain Pramuka (wajib), OSIS, UKS, PMR, dll.
Sebagai contoh Perbedaan esensial kurikulum SMA terlihat dari Bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi dan carrier of knowledge, semua mata pelajaran diajarkan dengan pendekatan sainstifik.Selain itu tidak ada penjurusan di SMA, namun terdapat mata pelajaran wajib, peminatan, antar minat, dan pendalaman minat (Kemendikbud 2013). Lebih lanjut Hasan (2013) menerangkan penentuan minat dilakukan ketika mendaftar SMA berdasarkan konseling ketika SMP, prestasi belajar SMP, Placement test ketika mendaftar di SMA, dan pengamatan dan pembinaan konselor di SMA. Hal tersebut dilakukan agar di semester kedua siswa diperkenankan pindah kelompok minat atau pilihan kelompok minat.
Kurikulum 2013 juga akan menerapkan system evaluasi baru untuk melihat keberhasilan pencapaian proses belajar mengajar. Jika selama ini tes sangat dominan dalam evaluasi maka dalamkurikulum baru tes akan dikombinasikan dengan penilaian portofolio. Pertimbangannya, tes hanya mampu menilai kognitif siswa semata sementara afektif dan psikomotorik siswa tidak akan tersentuh. Oleh karena itu system evaluasi baru ini diharapkan akan mampu mengukur pencapaian siswa secara konprehensif. Bagaimanapun ini juga membutuhkan kesiapan dari guru. Semua guru terbiasa menilai siswa mereka hanya dengan menggunakan tes. Mereka terbiasa membuat soal untuk tes sehingga mengabaikan keaktifan dan sikap siswa dalam penilaian. Jika kurikulum 2013 diterapkan nanti maka para guru perlu pelatihan khusus bagaimana melakukan evaluasi yang komprehensif dengan portofolio
D. Kesiapan Guru dalam Pelaksanaan Kurikulum Tahun 2013
Kesiapan guru yang menjadi fokus penelitian adalah pemahaman guru terhadap Kurikulum 2013. Pemahaman guru mengenai Kurikulum 2013 dapat menunjukkan seberapa besar kesiapan guru mengimplementasikan Kurikulum 2013. Pemahaman guru yang diteliti meliputi pengetahuan mengenai alasan pengembangan, aktulaisasi informasi, struktur dan strategi pengembangan, dan respon terhadap perubahan kurikulum menjdai Kurikulum 2013.
1 Pengertian Kesiapan Guru
Konsep “Kesiapan” ditinjau dari segi bahasa berasal dari bahasa Inggris, yaitu readiness. Istilah readiness, di dalam Dictionery of Education (Good. 2003:473) mempunyai arti “Willingness, desire, and ability to engage in given activity”. Jadi, kesiapan berarti Kemauan, hasrat/dorongan, dan kemampuan untuk terlibat dalam kegiatan tertentu. (http://bram127.4shared.com).
Konsep “kesiapan guru” merupakan frase yang terdiri dari dua kata yaitu “kesiapan” dan “ guru”. Kata kesiapan berasal dari kata siap yang berarti sikap atau keadaan “ sudah bersedia” (KBBI, 2005). Pengertian Guru secara formal tersurat dalam UU No. 14 tahun 2005 diartikan sebagai, “ pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah”. Jadi kesiapan guru dapat diartikan sebagai sikap kesediaan untuk terlibat dalam tugas mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik.
Konsep kesiapan guru dapat dipinjam dari teori kematangan pekerja dan teori produktivitas pekerja dalam suatu organisasi. Hersey dan Blanchard ( diterjemahkan oleh Agus Dharma 2000, h.179) mengemukakan konsep kematangan pekerja sebagai kesiapan yaitu”kemampuan dan kemauan (ability and¬ willingness) orang orang untuk memikul tanggung jawab untuk mengarahkan perilaku mereka sendiri”. Dalam hal ini, Hersey dan Blanchard mengingatkan bahwa variabel variabel kematangan hendaknya hanya dipertimbangkan dalam kaitannya dengan tugas tertentu yang perlu dilaksanakan.
Konsep kematangan, menurut Hersey dan Blanchard mengandung dua dimensi yakni: kematangan pekerjaan (kemampuan) dan kematangan psikologis (kemauan). Dalam hal kematangan pekerjaan dikaitkan dengan pengetahuan dan keterampilan orang untuk melakukan sesuatu. Sedangkan kematangan psikologis dikaitkan dengan kemauan atau motivasi orang untuk melakukan sesuatu. Indikasinya, terletak pada rasa yakin dan komitmen. Orang yang matang secara psikologis dalam bidang tugas dan tanggung jawab tertentu merasa bahwa tanggung jawab merupakan hal yang sangat penting serta memiliki rasa yakin terhadap diri sendiri dan merasa difinya mampu dalam aspek pekerjaan itu.
Untuk mengetahui tingkat kematangan pegawai diperlukan informasi yang memadai tentang kemampuan dan kemauan atau motivasi pegawai tersebut. Hal ini, menurut Hersey dan Blanchard (diterjemahkan oleh Agus Dharma 2000, h.179) dapat diperoleh dengan menanyakan kepada orang yang bersangkutan dan mengamati perilakunya. Cara ini akan menghasilkan informasi yang akurat. Untuk itu, diperlukan pengkajian terhadap aspek aspek berkenaan dengan kemampuan dan kemauan pegawai untuk melakukan sesuatu.
Teori lain yang relevan dengan konsep kesiapan guru adalah teori produktivitas kerja pegawai atau performance kerja pegawai. Sutermeister, R.A. (1976) melihat produktivitas kerja atau performance kerja pegawai dari segi ukuran manusia kerjanya. Dalam hal ini ada dua dimensi dalam diri manusia .kerja yang menjadi ramuan penting bagi produktivitas atau performance pekerja yang baik, yaitu kemampuan, (ability) dan motivasi (motivation) bekerja. Sutermeister R.A. (dikutip oleh Permana 2008,h. 24) mengemukakan bahwa “the human contribution to productivity or employee’s Job Performance… are considered to result from ability … and motivation. Both ability and motivation are essential ingredients to good employee performance.” Pendapat tersebut menjelaskan bahwa manusia mempunyai kontribusi pada kinerja atau kinerja guru tergantung pada hasil kemampuan dan motivasi.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kesiapan guru yang dalam penelitian ini, kesiapan guru dihubungkan dengan implementasi atau pemberlakuan kurikulum baru tahun 2013, adalah sebagai kemauan (Willingness), hasrat (motivasi,) dan kemampuan (abilitas) guru untuk berfungsi secara optimal dalam pelaksanaan Implementasi Kurikulum baru tahun 2013.
Hersey dan Blanchard (Dharma 2000, h.179) mengemukakan aspek aspek yang dapat menentukan kemampuan dan kemauan pegawai untuk melakukan sesuatu, yakni:
a) Aspek kemampuan (Abilitas) dapat ditentukan dengan mengkaji prestasi pada waktu-waktu sebelumnya. Apakah orang itu telah bekerja dengan baik sebelumnya, atau adakah prestasi kerjanya. jelek atau tidak konsisten? Adakah anggota staf memiliki pengetahuan yang diperlukan untuk melaksanakan tugas dengan baik dalam bidang yang bersangkuan, atau tahukah orang itu cara melakukan. hal hal yang perlu dilakukan ?
b) Aspek kemauan (Willingness) dapat ditentukan dengan mengamati perilaku seseorang dalam hal hal terentu. Bagaimana level orang yang bersangkutan? Antusiaskah orang itu atau kurang berminatkah? Bagaimana keterikatan orang itu dengan terhadap organisasi/ senangkah orang itu melakukan hal hal dalam bidang tersebut atau ragu ragu mengerjakannya? Adakah keyakinan diri orang itu tinggi dalam bidang tersebut atau kurang yakinkah mereka?
Selanjutnya, Sutermeister (dikutip oleh Permana 2008,h. 24) merinci aspek aspek yang membentuk kemampuan (ability) dan motivasi (motivation) tersebut. Kemampuan merupakan hasil bentukan dari pengetahuan (knowledge) dan keterampilan (skill). Pengetahuan itu sendiri dipengaruhi oleh pendidikan (education), pengalaman (experience), latihan (training), dan minat (interest). Sedangkan, keterampilan dipengaruhi oleh bakat (aptitude), dan kepribadian (personality). Begitu juga dengan pendidikan, pengalaman, latihan dan minat. Adapun motivasi merupakan hasil bentukan dari tiga kekuatan yang berinteraksi, yaitu (1) kondisi fisik pekerjaan, (2) kondisi sosial pekerjaan, dan (3) kebutuhan individu pekerja. Faktor faktor yang kompleks inilah yang membentuk perilaku produktivitas seorang pegawai. Ringkasnya, perilaku produktivitas atau performan kerja pegawai sebenamya merupakan jelmaan dari dua kekuatan utama yang menyatu di dalam diri individu, yaitu kemampuan (ability) dan motivasi (motivation) kerja individu.
Kesiapan guru dalam pelaksanaan Kurikulum tergantung pula pada pemaknaan guru terhadap persepsi kurikulum. Persoalan makna, bermakna, memaknai, kebermaknaan, atau pemaknaan atau dalam bahasa Inggrisnya meaning, meaningful, meaningfulness terhadap sesuatu tentunya sejauh yang dapat dikira, teraba dari isyarat isyarat yang dapat dikomunikasikan orang mengenai sesuatu kejadian atau hal berikut konteksnya atau lingkungan yang bersangkutan.
Berkenaan dengan pemaknaan itu, Achmad Sanusi (yang dikutip oleh Permana 2008, h.25) ) mengajukan satu model pendekatan lewat proporsi proporsi bahwa makna itu objeknya ( fakta, atau dengan bentuk, atau dengan kaidah, atau dengan ketiga tiganya) bersifat tunggal, atau banyak (umum, sistem), atau menyeluruh (total sistem), atau ketiga tiganya sekaligus yang mengandung nilai yang dapat berarti :
1) Ketepatan dan kesesuaian dengan kebutuhan
2) Ketetapan dan kesesuaian dengan kaidah etis,
3) kemampuan mengolah secara indrawi, secara nalar, dan secara hati nurani.
4) Makna itu kemudian dirumuskan atau dikomunikasikan.
Dapat disimpulkan bahwa Dimensi kesiapan guru dapat diukur sesuai model konsep performance yang dikemukakan Sutermeister R.A. (dikutip oleh Permana 2008,h. 24), dan Hersey dan Blanchard (Dharma 2000, h.179) sebagai berikut: .
1) Dimensi kemauan (Willingness) dapat ditentukan dengan mengamati perilaku seseorang dalam hal hal terentu. level, Antusiasme, kesenangan, dan keyakinan.
2) Dimensi kemampuan (ability) yang meliputi : (a) pengetahuan (knowledge) yang diperoleh dari pendidikan (education), pengalaman (experience), latihan (training), dan minat (interest), . (b) keterampilan (skill). yaitu bakat (aptitude), dan kepribadian (personality).
3) Dimensi motivasi yang meliput (1) kondisi fisik pekerjaan, (2) kondisi sosial pekerjaan, dan (3) kebutuhan individu.

E. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas, dapat penulis simpulkan beberapa hal-hal sebagai resume.:
Perubahan dalam kurikulum baru yang menuntut profesionalisme guru yang sesuai dengan kurikulum baru tersebut. Perubahan isi mata mata pelajaran dan jumlah mata pelajaran padamasing-masing satuan pendidikan tentu membutuhkan guru yang siap untuk itu. Kompetensi professional adalah “kemampuan penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam (PP 74/2008). Guru profesional adalah guru yang ingin mengedepankan mutu dan kualitas layanandan produknya, layanan guru harus memenuhi standarisasi kebutuhan masyarakat, bangsa dan pengguna serta memaksimalkan kemampuan peserta didik berdasar potensi dan kecakapan yang dimiliki masing-masing individu.
Kurikulum 2013 juga menuntut guru untuk melakukan pembelajaran berbasis pendekatan sains. Kompetensi pedagogik guru perlu untuk implementasi kurikulum 2013 karena kompetensi tersebut berkaitan dengan pengembangan kurikulum serta proses pembelajaran yang dilakukan di dalam kelas.. Guru juga dituntut untuk tidak hanya memiliki kompetensi pedagogik,namun juga harus memiliki kompetensi sosial, kepribadian, dan profesional,.
Kesiapan guru dalam pelaksanaan Kurikulum 2013 tergantung pula pada pemaknaan guru terhadap persepsi kurikulum. Kesiapan guru tersebut harus diwujudkan dalam (1) Dimensi kemauan (Willingness) berupa , Antusiasme, kesenangan, dan keyakinan.(2) Dimensi kemampuan (ability) yang meliputi : (a) pengetahuan (knowledge) yang diperoleh dari pendidikan (education), pengalaman (experience), latihan (training), dan minat (interest), . (b) keterampilan (skill). yaitu bakat (aptitude), dan kepribadian (personality). (3) Dimensi motivasi yang meliput (1) kondisi fisik pekerjaan, (2) kondisi sosial pekerjaan, dan (3) kebutuhan individu.

F. Saran
Dari hasil analisis dan simpulan di atas, penulis menyampaikan saran-saran hasil sebagai berikut.
1. Bahwa untuk melaksanakan suatu program, apalagi program pendidikan dipandang perlu adanya pemahaman dan persamaan persepsi dari semua pihak pelaksananya. Begitu pula program implementasi kurikulum 2013, sebaiknya pada tataran implementasinya diadakan sosialisasi melalui penataran yang bersifat training (pelatihan) bukan hanya berbentuk 3 D (duduk, dengar, duplikasi) tapi lebih kea rag 3 E ( Eksplorasi, Eksperimen, dan Evaluasi)..
2. Pemahaman guru tentang landasan dasar dan dasar pijak opersional kurikulum 2013. Oleh karena itu, direkomendasikan agar sebaiknya para pimpinan satuan pendidikan atau pimpinan sekolah mengadakan sumber-sumber kepustakaan dan literatur serta buku perundang-undangan tentang Kurikulum dan sistem pendidikan Indonesia. Dengan demikian diharapkan guru dapat lebih memahami tentang kurikulum.
3. Pemahaman dan penguasaan isi kurikulum adalah kewajiban dan keharusan bagi seorang guru. Untuk itu sebaiknya program kurikulum 2013 ini dilengkapi dengan infrastruktur implementasinya.

DAFTAR PUSTAKA
Agung TW. 2009. Motivasi kerja guru dalam mengembangkan kurikulum di sekolah. Jurnal Pendidikan Penabur 8 (13):56-63.
Aprillah, Ahmad. 2013 Implementasi Kurikulum 2013 dan Kesiapan Guru, Mataram: FKIP Unram (download)
Depdikbud RI, 2013. Peraturan Menteri Pendidikan No. 64 s.d n0.70 tahun 2013, tentang Kurikulum 2013. Jakarta:Depdiknas RI.
Hamalik O. 2008. Manajemen Pengembangan Kurikulum. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Hasan H. 2013. Informasi Kurikulum 2013. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.
Iskandar H. 2013. Desain Induk Kurikulum 2013. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
[Kemdikbud] Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2012. Bahan Uji Publik
Kurikulum 2013. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
_______. 2013a. Materi Pelatihan Guru Implementasi Kurikulum 2013 SMP/MTsIlmu Pengetahuan Alam. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
_______. 2013b. Pedoman Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
_______. 2013c. Pedoman Pemberian Bantuan Implementasi Kurikulum Tahun 2013. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
_______. 2013d. Pengembangan Kurikulum 2013. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Kwartolo Y. 2002. Catatan kritis tentang kurikulum berbasis kompetensi. Jurnal Pendidikan Penabur 1 (1):106-116.
Mulyasa E. 2009. Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Mustofa. 2007. Upaya pengembangan profesionalisme guru di Indonesia. Jurnal Ekonomi dan Pendidikan 4 (1):76-88.
Nugroho. 2013. Kurikulum Butuh Guru Hebat!. Makalah disampaikan pada Seminar Nasional Pendidikan tahun 2013 bertema Menyongsong Penyelenggaraan Kurikulum 2013. download
[Permendiknas] Peraturan Menteri Pendidikan Nasional. 2007. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 16 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru. Jakarta: BSNP.
[Permendikbud] Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. 2013. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 69 tahun 2013 tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
[PP RI] Peraturan Pemerintah Republik Indonesia. 2009. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 19 tahun 2005 tentang : standar nasional pendidikan. Jakarta: Pemerintah Republik Indonesia.
_______. 2009. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 74 tahun 2008 tentang : guru. Jakarta: Novindo Pustaka Mandiri.
Purwo BK. 2009. Menjadi guru pembelajar.Jurnal Pendidikan Penabur 8 (13):64-70.
Sanaky HAH. 2005. Sertifikasi dan Profesionalisme Guru di Era Reformasi
Pendidikan. Jurnal Pendidikan Islam 2005 (1):1-13.
Sekneg RI, 2003, Undang Undang No. 20 tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Depdikbud RI
Soetisna. ,2000 . Total Quality Management. Bandung. Kantor Konsultan Jaminan Mutu Total.
Sukmadinata, Nana Saodih, 2004 . Kurikulum dan Pembelajaran Kompetensi. Bandung, Remaja Rosda Karya
Sukmadinata NS. 2009. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya.
[UU RI] Undang-undang Republik Indonesia. 2005. Undang-undang Republik Indonesia nomor 14 tahun 2005 tentang: guru dan dosen. Jakarta: Pemerintah Republik Indonesia.
Usman H & Nuryadin ER. Strategi Kepemimpinan Pembelajaran Menyongsong Implementasi Kurikulum 2013. Cakrawala Pendidikan 32 (1):1-13.
Usman MU. 2005. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosda Karya.
Widodo. 2012. Pengembangan kurikulum sekolah unggulan. Jurnal Pendidikan Penabur 11 (19):38-51

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: