Archive for November, 2015

UJI KOMPETENSI GURU (UKG) 2015 BAHAN-BAHAN YANG PERLU DIKUASAI

November 14, 2015

UJI KOMPETENSI AKADEMIK PENDIDIK

RANGKUMAN
Disajikan sebagai bahan UKG

Oleh:
E.T.Rustanto, S.Pd.

2015

RANGKUMAN SOAL UJI KOMPETENSI

Oleh : Endang Toto Rustanto S.Pd.
.

I . SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL
UU NO. 20 TAHUN 2003
A. Bab I Psl 1 Dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan:
1. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
2. Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman.
3. Sistem pendidikan nasional adalah keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.
4. Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu.
5. Tenaga kependidikan adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan.
6. Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan.
7. Jalur pendidikan adalah wahana yang dilalui peserta didik untuk mengembangkan potensi diri dalam suatu proses pendidikan yang sesuai dengan tujuan pendidikan.
8. Jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang dikembangkan.
9. Jenis pendidikan adalah kelompok yang didasarkan pada kekhususan tujuan pendidikan suatu satuan pendidikan.
10. Satuan pendidikan adalah kelompok layanan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan pada jalur formal, nonformal, dan informal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan.
11. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.
12. Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.
13. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan.
14. Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
15. Pendidikan jarak jauh adalah pendidikan yang peserta didiknya terpisah dari pendidik dan pembelajarannya menggunakan berbagai sumber belajar melalui teknologi komunikasi, informasi, dan media lain.
16. Pendidikan berbasis masyarakat adalah penyelenggaraan pendidikan berdasarkan kekhasan agama, sosial, budaya, aspirasi, dan potensi masyarakat sebagai perwujudan pendidikan dari, oleh, dan untuk masyarakat.
17. Standar nasional pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia.
18. Wajib belajar adalah program pendidikan minimal yang harus diikuti oleh warga negara Indonesia atas tanggung jawab Pemerintah dan pemerintah daerah.
19. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
20. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.
21. Evaluasi pendidikan adalah kegiatan pengendalian, penjaminan, dan penetapan mutu pendidikan terhadap berbagai komponen pendidikan pada setiap jalur, jenjang, dan jenis pendidikan sebagai bentuk pertanggungjawaban penyelenggaraan pendidikan.
22. Akreditasi adalah kegiatan penilaian kelayakan program dalam satuan pendidikan berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan.
23. Sumber daya pendidikan adalah segala sesuatu yang dipergunakan dalam penyelenggaraan pendidikan yang meliputi tenaga kependidikan, masyarakat, dana, sarana, dan prasarana.
24. Dewan pendidikan adalah lembaga mandiri yang beranggotakan berbagai unsur masyarakat yang peduli pendidikan.
25. Komite sekolah/madrasah adalah lembaga mandiri yang beranggotakan orang tua/wali peserta didik, komunitas sekolah, serta tokoh masyarakat yang peduli pendidikan.
26. Warga negara adalah warga negara Indonesia baik yang tinggal di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia maupun di luar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
27. Masyarakat adalah kelompok warga negara Indonesia nonpemerintah yang mempunyai perhatian dan peranan dalam bidang pendidikan.
28. Pemerintah adalah Pemerintah Pusat.
29. Pemerintah daerah adalah pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, atau pemerintah kota.
30. Menteri adalah menteri yang bertanggung jawab dalam bidang pendidikan nasional.
B. BAB III Pasal 4 Prinsip Penyelenggaraan Pendidikan
(1) Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa.
(2) Pendidikan diselenggarakan sebagai satu kesatuan yang sistemik dengan sistem terbuka dan multimakna.
(3) Pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat.
(4) Pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran.
(5) Pendidikan diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung bagi segenap warga masyarakat.
(6) Pendidikan diselenggarakan dengan memberdayakan semua komponen masyarakat melalui peran serta dalam penyelenggaraan dan pengendalian m

C. Pasal 28 Pendidikan Anak Usia Dini
(1) Pendidikan anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar.
(2) Pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal, dan/atau informal.
(3) Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal berbentuk taman kanak-kanak (TK), raudatul athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat.
(4) Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan nonformal berbentuk kelompok bermain (KB), taman penitipan anak (TPA), atau bentuk lain yang sederajat.
(5) Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan informal berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan.
(6) Ketentuan mengenai pendidikan anak usia dini sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

D. Pasal 17 Pendidikan Dasar
(1) Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah.
(2) Pendidikan dasar berbentuk sekolah dasar (SD) dan madrasah ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat serta sekolah menengah pertama (SMP) dan madrasah tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat.
(3) Ketentuan mengenai pendidikan dasar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat
(2) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

E. Pasal 18 Pendidikan Menengah

(1) Pendidikan menengah merupakan lanjutan pendidikan dasar.
(2) Pendidikan menengah terdiri atas pendidikan menengah umum dan pendidikan menengah kejuruan.
(3) Pendidikan menengah berbentuk sekolah menengah atas (SMA), madrasah aliyah (MA), sekolah menengah kejuruan (SMK), dan madrasah aliyah kejuruan (MAK), atau bentuk lain yang sederajat.
(4) Ketentuan mengenai pendidikan menengah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

II. UU NO. 14/2005 GURU DAN DOSEN

A. UU NO. 14/2005 BAB I KETENTUAN UMUM

Pasal 1 Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:
1. Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
4. Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi
9. Kualifikasi akademik adalah ijazah jenjang pendidikan akademik yang harus dimiliki oleh guru atau dosen sesuai dengan jenis, jenjang, dan satuan pendidikan formal di tempat penugasan.
10. Kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan

B. UU NO. 14/2005 BAB III PRINSIP PROFESIONALITAS GURU

Pasal 7

(1) Profesi guru dan profesi dosen merupakan bidang pekerjaan khusus yang dilaksanakan berdasarkan prinsip sebagai berikut:
a. memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme;
b. memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia;
c. memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas;
d. memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas;
e. memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan;
f. memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja;
g. memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat;
h. memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas keprofesionalan; dan
i. memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru.

C. UU NO. 14/2005 BAB IV GURU

Bagian Kesatu
Kualifikasi, Kompetensi, dan Sertifikasi

Pasal 8 Guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

Pasal 9 Kualifikasi akademik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 diperoleh melalui pendidikan tinggi program sarjana atau program diploma empat.

Pasal 10

(1) Kompetensi guru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi.

Pasal 20 Dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, guru berkewajiban:
a. merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran;
b. meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni;
c. bertindak objektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis kelamin, agama, suku, ras, dan kondisi fisik tertentu, atau latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi peserta didik dalam pembelajaran;
d. menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan, hukum, dan kode etik guru, serta nilai-nilai agama dan etika; dan
e. memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa.

III. STANDAR PENDIDIKAN NASIONAL
PP No. 19 Tahun 2005
A. Bab I Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan:
1. Standar nasional pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia.
2. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.
3. Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.
4. Standar kompetensi lulusan adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
5. Standar isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu.
6. Standar proses adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satu satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan.
7. Standar pendidik dan tenaga kependidikan adalah kriteria pendidikan prajabatan dan kelayakan fisik maupun mental, serta pendidikan dalam jabatan.
8. Standar sarana dan prasarana adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan kriteria minimal tentang ruang belajar, tempat berolahraga, tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat berkreasi dan berekreasi, serta sumber belajar lain, yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran, termasuk penggunaan teknologi informasi dan komunikasi.
9. Standar pengelolaan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan, kabupaten/kota, provinsi, atau nasional agar tercapai efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pendidikan.
10. Standar pembiayaan adalah standar yang mengatur komponen dan besarnya biaya operasi satuan pendidikan yang berlaku selama satu tahun.
11. Standar penilaian pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik.

B. BAB II Pasl 2 LINGKUP, FUNGSI, DAN TUJUAN
(1) Lingkup Standar Nasional Pendidikan meliputi:
a. standar isi;
b. standar proses;
c. standar kompetensi lulusan;
d. standar pendidik dan tenaga kependidikan;
e. standar sarana dan prasarana;
f. standar pengelolaan;
g. standar pembiayaan;dan
h. standar penilaian pendidikan.
(2) Untuk penjaminan dan pengendalian mutu pendidikan sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan dilakukan evaluasi, akreditasi, dan sertifikasi.
(3) Standar Nasional Pendidikan disempurnakan secara terencana, terarah, dan berkelanjutan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global.

C. Pasal 3 : Standar Nasional Pendidikan berfungsi sebagai dasar dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu.
D. Pasal 4 Standar Nasional Pendidikan bertujuan menjamin mutu pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat.

III. KTSP
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN (BSNP)

A. PENDAHULUAN

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Tujuan tertentu ini meliputi tujuan pendidikan nasional serta kesesuaian dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan dan peserta didik. Oleh sebab itu kurikulum disusun oleh satuan pendidikan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di daerah

KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. KTSP terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus.

B. KTSP dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut:

1. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya.
2. Beragam dan terpadu
3. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni
4. Relevan dengan kebutuhan kehidupan
5. Menyeluruh dan berkesinambungan
6. Belajar sepanjang hayat
7. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah

C. Acuan Operasional Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

KTSP disusun dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut.
1. Peningkatan iman dan takwa serta akhlak mulia
2. Peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat sesuai dengan tingkat perkembangan dan kemampuan peserta didik
3. Keragaman potensi dan karakteristik daerah dan lingkungan
4. Tuntutan pembangunan daerah dan nasional
5. Tuntutan dunia kerja
6. Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni
7. Agama
8. Dinamika perkembangan global
9. Persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan
10. Kondisi sosial budaya masyarakat setempat
11. Kesetaraan Jender
12. Karakteristik satuan pendidikan

D. Struktur dan Muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

Struktur dan muatan KTSP pada jenjang pendidikan dasar dan menengah yang tertuang dalam SI meliputi lima kelompok mata pelajaran sebagai berikut.
1. Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia
2. Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian
3. Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi
4. Kelompok mata pelajaran estetika
5. Kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan
Kelompok mata pelajaran tersebut dilaksanakan melalui muatan dan/atau kegiatan pembelajaran sebagaimana diuraikan dalam PP 19/2005 Pasal 7.

Muatan KTSP meliputi sejumlah mata pelajaran yang keluasan dan kedalamannya merupakan beban belajar bagi peserta didik pada satuan pendidikan. Di samping itu materi muatan lokal dan kegiatan pengembangan diri termasuk ke dalam isi kurikulum.

1. Mata pelajaran
2. Muatan Lokal
3. Kegiatan Pengembangan Diri
4. Pengaturan Beban Belajar
5. Ketuntasan Belajar
6. Kenaikan Kelas dan Kelulusan
7. Penjurusan
8. Pendidikan Kecakapan Hidup
9. Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal dan Global

IV. SILABUS
DEPDIKNAS RI TAHUN 2008

A. Prinsip Pengembangan Silabus

Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi , kompetensi dasar, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar.

Untuk memperoleh silabus yang baik, dalam penyusunan silabus perlu memperhatikan prinsip-prinsip berikut:

1. Ilmiah
2. Relevan
3. Sistematis
4. Konsisten
5. Memadai
6. Aktual dan Kontekstual
7. Fleksibel
8. Menyeluruh

B. Komponen Silabus

Berikut disajikan ikhtisar tentang komponen pokok dari silabus yang lazim digunakan:

1. Komponen yang berkaitan dengan kompetensi yang hendak dikuasai, meliputi :
a. SK
b. KD
c. Indikator
d. Materi Pembelajaran

2. Komponen yang berkaitan dengan cara menguasai kompetensi, memuat pokok pokok kegiatan dalam pembelajaran.

3. Komponen yang berkaitan dengan cara mengetahui pencapaian kompetensi, mencakup
a. Teknik Penilaian :
 Jenis Penilaian
 Bentuk Penilaian
b. Instumen Penilaian

4. Komponen Pendukung, terdiri dari :
a. Alokasi waktu
b. Sumber belajar.

C. Langkah-langkah Pengembangan Silabus

1. Mengkaji Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar

Mengkaji standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran sebagaimana tercantum pada Standar Isi, dengan memperhatikan hal-hal berikut:
a. urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat kesulitan materi, tidak harus selalu sesuai dengan urutan yang ada di SI;
b. keterkaitan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam mata pelajaran;
c. keterkaitan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar antarmata pelajaran.

2. Mengidentifikasi Materi Pembelajaran

Mengidentifikasi materi pembelajaran yang menunjang pencapaian kompetensi dasar dengan mempertimbangkan:
a. potensi peserta didik;
b. relevansi dengan karakteristik daerah,
c. tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spritual peserta didik;
d. kebermanfaatan bagi peserta didik;
e. struktur keilmuan;
f. aktualitas, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran;
g. relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan; dan
h. alokasi waktu.

3. Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran

Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antar peserta didik, peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi dasar. Pengalaman belajar yang dimaksud dapat terwujud melalui penggunaan pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan berpusat pada peserta didik. Pengalaman belajar memuat kecakapan hidup yang perlu dikuasai peserta didik.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut.
a. Kegiatan pembelajaran disusun untuk memberikan bantuan kepada para pendidik, khususnya guru, agar dapat melaksanakan proses pembelajaran secara profesional.
b. Kegiatan pembelajaran memuat rangkaian kegiatan yang harus dilakukan oleh peserta didik secara berurutan untuk mencapai kompetensi dasar.
c. Penentuan urutan kegiatan pembelajaran harus sesuai dengan hierarki konsep materi pembelajaran.
d. Rumusan pernyataan dalam kegiatan pembelajaran minimal mengandung dua unsur yang mencerminkan pengelolaan pengalaman belajar peserta didik, yaitu kegiatan peserta didik dan materi.

4. Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi

Indikator merupakan penanda pencapaian kompetensi dasar yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, mata pelajaran, satuan pendidikan, potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi. Indikator digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian.

Kata kerja operasional (KKO) Indikator dimulai dari tingkatan berpikir mudah ke sukar, sederhana ke kompleks, dekat ke jauh, dan dari konkrit ke abstrak (bukan sebaliknya).

Kata kerja operasional pada KD benar-benar terwakili dan teruji akurasinya pada deskripsi yang ada di kata kerja operasional indikator.

5. Penentuan Jenis Penilaian

Penilaian pencapaian kompetensi dasar peserta didik dilakukan berdasarkan indikator. Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan non tes dalam bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, proyek dan/atau produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri.

Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian.
a. Penilaian diarahkan untuk mengukur pencapaian kompetensi.
b. Penilaian menggunakan acuan kriteria; yaitu berdasarkan apa yang bisa dilakukan peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran, dan bukan untuk menentukan posisi seseorang terhadap kelompoknya.
c. Sistem yang direncanakan adalah sistem penilaian yang berkelanjutan. Berkelanjutan dalam arti semua indikator ditagih, kemudian hasilnya dianalisis untuk menentukan kompetensi dasar yang telah dimiliki dan yang belum, serta untuk mengetahui kesulitan siswa.
d. Hasil penilaian dianalisis untuk menentukan tindak lanjut. Tindak lanjut berupa perbaikan proses pembelajaran berikutnya, program remedi bagi peserta didik yang pencapaian kompetensinya di bawah kriteria ketuntasan, dan program pengayaan bagi peserta didik yang telah memenuhi kriteria ketuntasan.
e. Sistem penilaian harus disesuaikan dengan pengalaman belajar yang ditempuh dalam proses pembelajaran. Misalnya, jika pembelajaran menggunakan pendekatan tugas observasi lapangan maka evaluasi harus diberikan baik pada proses misalnya teknik wawancara, maupun produk berupa hasil melakukan observasi lapangan.

6. Menentukan Alokasi Waktu

Penentuan alokasi waktu pada setiap kompetensi dasar didasarkan pada jumlah minggu efektif dan alokasi waktu mata pelajaran per minggu dengan mempertimbangkan jumlah kompetensi dasar, keluasan, kedalaman, tingkat kesulitan, dan tingkat kepentingan kompetensi dasar. Alokasi waktu yang dicantumkan dalam silabus merupakan perkiraan waktu rerata untuk menguasai kompetensi dasar yang dibutuhkan oleh peserta didik yang beragam.

7. Menentukan Sumber Belajar

Sumber belajar adalah rujukan, objek dan/atau bahan yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran, yang berupa media cetak dan elektronik, nara sumber, serta lingkungan fisik, alam, sosial, dan budaya.

Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar serta materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi.

V. RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

DEPDIKNAS RI TAHUN 2008
Berdasarkan PP 19 Tahun 2005 Pasal 20 dinyatakan bahwa:
”Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pengajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar”.

RPP disusun untuk setiap KD yang dapat dilaksanakan dalam satu kali pertemuan atau lebih. Guru merancang penggalan RPP untuk setiap pertemuan yang disesuaikan dengan penjadwalan di satuan pendidikan.

A. PRINSIP-PRINSIP PENYUSUNAN RPP
1. Memperhatikan perbedaan individu peserta didik
2. Mendorong partisipasi aktif peserta didik
3. Mengembangkan budaya membaca dan menulis.
4. Memberikan umpan balik dan tindak lanjut
5. Keterkaitan dan keterpaduan.
6. Menerapkan teknologi informasi dan komunikasi

B. Komponen RPP adalah:
1. Identitas mata pelajaran, meliputi:
a. satuan pendidikan,
b. kelas,
c. semester,
d. program studi,
e. mata pela¬jaran atau tema pelajaran,
f. jumlah pertemuan.
2. standar kompetensi
merupakan kualifikasi kemam¬puan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diharapkan dicapai pada setiap kelas dan/atau semester pada suatu mata pelajaran.
3. kompetensi dasar,
adalah sejumlah kemampuan yang harus dikuasai peserta didik dalam mata pelajaran ter¬tentu sebagai rujukan penyusunan indikator kompe¬tensi dalam suatu pelajaran.
4. indikator pencapaian kompetensi,
adalah perilaku yang dapat diukur dan/atau diobservasi untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang menjadi acuan penilai¬an mata pelajaran. Indikator pencapaian kompetensi dirumuskan dengan menggunakan kata kerja opera¬sional yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan.
5. tujuan pembelajaran,
menggambarkan proses dan ha¬sil belajar yang diharapkan dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar.
6. materi ajar,
memuat fakta, konsep, prinsip, dan pro¬sedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator pencapaian kompe¬tensi.
7. alokasi waktu,
ditentukan sesuai dengan keperluan un¬tuk pencapaian KD dan beban belajar.
8. metode pembelajaran,
digunakan oleh guru untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembela¬jaran agar peserta didik mencapai kompetensi dasar atau seperangkat indikator yang telah ditetapkan. Pemi¬lihan metode pembelajaran disesuaikan dengan situ¬asi dan kondisi peserta didik, serta karakteristik dari setiap indikator dan kompetensi yang hendak dicapai pada setiap mata pelajaran.
9. kegiatan pembelajaran :
a. Pendahuluan
Pendahuluan merupakan kegiatan awal dalam suatu pertemuan pembelajaran yang ditujukan un¬tuk membangkitkan motivasi dan memfokuskan perhatian peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran.
b. Inti
Kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai KD. Kegiatan pembelajaran di¬lakukan secara interaktif, inspiratif, menyenang¬kan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Kegiatan ini dilakukan secara sistematis dan sistemik melalui proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi.
c. Penutup
Penutup merupakan kegiatan yang dilakukan un¬tuk mengakhiri aktivitas pembelajaran yang dapat dilakukan dalam bentuk rangkuman atau simpul¬an, penilaian dan refleksi, umpan balik, dan tindaklanjut.

10. Penilaian hasil belajar
Prosedur dan instrumen penilaian proses dan hasil belajar disesuaikan dengan indikator pencapaian kom¬petensi dan mengacu kepada Standar Penilaian.
11. Sumber belajar
Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar, serta materi ajar, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kom-petensi.

VI. Sertifikasi

Sertifikasi adalah proses pemberian sertifikat pendidik untuk guru. Sertifikasi bagi guru prajabatan dilakukan melalui pendidikan profesi di LPTK yang terakreditasi dan ditetapkan pemerintah diakhiri dengan uji kompetensi. Sertifikasi guru dalam jabatan dilakukan sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidkan Nasional Nomor 18 Tahun 2007, yakni dilakukan dalam bentuk portofolio.

Sertifikasi bagi guru dalam jabatan adalah proses pemberian sertifikat pendidik untuk guru dalam jabatan. Sertifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diikuti oleh guru dalam jabatan yang telah memiliki kualifikasi akademik sarjana (S1) atau diploma empat (D-IV). Sertifikasi bagi guru dalam jabatan diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang menyelenggarakan program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi dan ditetapkan oleh Menteri Pendidikan Nasional.
Sertifikasi bagi guru dalam jabatan dilaksanakan melalui uji kompetensi untuk memperoleh sertifikat pendidik. Uji kompetensi sebagaimana dimaksud dilakukan dalam bentuk penilaian portofolio. Penilaian portofolio sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan pengakuan atas pengalaman profesional guru dalam bentuk penilaian terhadap kumpulan dokumen yang mendeskripsikan:
a. kualifikasi akademik;
b. pendidikan dan pelatihan;
c. pengalaman mengajar;
d. perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran;
e. penilaian dari atasan dan pengawas;
f. prestasi akademik;
g. karya pengembangan profesi;
h. keikutsertaan dalam forum ilmiah;
i. pengalaman organisasi di bidang kependidikan dan sosial; dan
j. penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan.

Guru dalam jabatan yang lulus penilaian portofolio mendapat sertifikat pendidik. Guru dalam jabatan yang tidak lulus penilaian portofolio dapat:
a. melakukan kegiatan-kegiatan untuk melengkapi dokumen portofolio agar mencapai nilai lulus; atau
b. mengikuti pendidikan dan pelatihan profesi guru yang diakhiri dengan ujian; sesuai persyaratan yang ditentukan oleh perguruan tinggi penyelenggara sertifikasi. Mencakup kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Guru dalam jabatan yang lulus pendidikan dan pelatihan profesi guru mendapat sertifikat pendidik.
Guru dalam jabatan yang belum lulus pendidikan dan pelatihan profesi guru diberi kesempatan untuk mengulang ujian materi pendidikan dan pelatihan yang belum lulus.

VII. KOMPETENSI GURU
PP NO. 19 /2005

Pasal 28
(1) Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
(2) Kualifikasi akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah tingkat pendidikan minimal yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik yang dibuktikan dengan ijazah dan/atau sertifikat keahlian yang relevan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
(3) Kompetensi sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan anak usia dini meliputi:
a. Kompetensi pedagogik;
b. Kompetensi kepribadian;
c. Kompetensi profesional; dan
d. Kompetensi sosial.
(4) Seseorang yang tidak memiliki ijazah dan/atau sertifikat keahlian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tetapi memiliki keahlian khusus yang diakui dan diperlukan dapat diangkat menjadi pendidik setelah melewati uji kelayakan dan kesetaraan.
(5) Kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan (4) dikembangkan oleh BSNP dan ditetapkan dengan Peraturan Menteri.

Pasal 29
(1) Pendidik pada pendidikan anak usia dini memiliki:
a. kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1)
b. latar belakang pendidikan tinggi di bidang pendidikan anak usia dini, kependidikan lain, atau psikologi; dan
c. sertifikat profesi guru untuk PAUD
(2) Pendidik pada SD/MI, atau bentuk lain yang sederajat memiliki:
a. kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1)
b. latar belakang pendidikan tinggi di bidang pendidikan SD/MI, kependidikan lain, atau psikologi; dan
c. sertifikat profesi guru untuk SD/MI
(3) Pendidik pada SMP/MTs atau bentuk lain yang sederajat memiliki:
a. kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1)
b. latar belakang pendidikan tinggi dengan program pendidikan yang sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan; dan
c. sertifikat profesi guru untuk SMP/MTs
(4) Pendidik pada SMA/MA, atau bentuk lain yang sederajat memiliki:
a. kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1)
b. latar belakang pendidikan tinggi dengan program pendidikan yang sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan; dan
c. sertifikat profesi guru untuk SMA/MA
(5) Pendidik pada SDLB/SMPLB/SMALB, atau bentuk lain yang sederajat memiliki:
a. kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1) latar belakang pendidikan tinggi dengan program pendidikan khusus atau sarjana yang sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan; dan
b. sertifikat profesi guru untuk SDLB/SMPLB/SMALB.
(6) Pendidik pada SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat memiliki:
a. kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1)
b. latar belakang pendidikan tinggi dengan program pendidikan yang sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan; dan
c. sertifikat profesi guru untuk SMK/MAK.
Pasal 30
(1) Pendidik pada TK/RA sekurang-kurangnya terdiri atas guru kelas yang penugasannya ditetapkan oleh masing-masing satuan pendidikan sesuai dengan keperluan.
(2) Pendidik pada SD/MI sekurang-kurangnya terdiri atas guru kelas dan guru mata pelajaran yang penugasannya ditetapkan oleh masing-masing satuan pendidikan sesuai dengan keperluan.
(3) Guru mata pelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sekurang-kurangnya mencakup guru kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia serta guru kelompok mata pelajaran pendidikan jasmani, olah raga, dan kesehatan.
(4) Pendidik pada SMP/MTs atau bentuk lain yang sederajat dan SMA/MA, atau bentuk lain yang sederajat terdiri atas guru mata pelajaran yang penugasannya ditetapkan oleh masing-masing satuan pendidikan sesuai dengan keperluan.
(5) Pendidik pada SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat terdiri atas guru mata pelajaran dan instruktur bidang kejuruan yang penugasannya ditetapkan oleh masing-masing satuan pendidikan sesuai dengan keperluan.
(6) Pendidik pada SDLB, SMPLB, dan SMALB terdiri atas guru mata pelajaran dan pembimbing yang penugasannya ditetapkan oleh masing-masing satuan pendidikan sesuai dengan keperluan.
(7) Pendidik pada satuan pendidikan Paket A, Paket B dan Paket C terdiri atas tutor penanggungjawab kelas, tutor penanggungjawab mata pelajaran, dan nara sumber teknis yang penugasannya ditetapkan oleh masingmasing satuan pendidikan sesuai dengan keperluan.
(8) Pendidik pada lembaga kursus dan pelatihan keterampilan terdiri atas pengajar, pembimbing, pelatih atau instruktur, dan penguji.

Pasal 35
(1) Tenaga kependidikan pada:
a. TK/RA atau bentuk lain yang sederajat sekurang-kurangnya terdiri atas kepala TK/RA dan tenaga kebersihan TK/RA.
b. SD/MI atau bentuk lain yang sederajat sekurang-kurangnya terdiri atas kepala sekolah/madrasah, tenaga administrasi, tenaga perpustakaan, dan tenaga kebersihan sekolah/madrasah.
c. SMP/MTs atau bentuk lain yang sederajat dan SMA/MA, atau bentuk lain yang sederajat sekurangkurangnya terdiri atas kepala sekolah/madrasah, tenaga administrasi, tenaga perpustakaan, tenaga laboratorium, dan tenaga kebersihan sekolah/madrasah.
d. SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat sekurang-kurangnya terdiri atas kepala sekolah/madrasah, tenaga administrasi, tenaga perpustakaan, tenaga laboratorium, dan tenaga kebersihan sekolah/madrasah.
e. SDLB, SMPLB, dan SMALB atau bentuk lain yang sederajat sekurang-kurangnya terdiri atas kepala sekolah, tenaga administrasi, tenaga perpustakaan, tenaga laboratorium, tenaga kebersihan sekolah, teknisi sumber belajar, psikolog, pekerja sosial, dan terapis.
f. Paket A, Paket B dan Paket C sekurang-kurangnya terdiri atas pengelola kelompok belajar, tenaga administrasi, dan tenaga perpustakaan.
g. lembaga kursus dan lembaga pelatihan keterampilan sekurang-kurangnya terdiri atas pengelola atau penyelenggara, teknisi, sumber belajar, pustakawan, dan laboran.
(2) Standar untuk setiap jenis tenaga kependidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikembangkan oleh BSNP dan ditetapkan dengan Peraturan Menteri.

.
VIII. PENGERTIAN-PENGERTIAN DALAM KTSP

A. Standar Kompetensi
standar kompetensi merupakan kualifikasi kemam¬puan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diharapkan dicapai pada setiap kelas dan/atau semester pada suatu mata pelajaran.
B. Kompetensi Dasar
Kompetensi dasar, adalah sejumlah kemampuan yang harus dikuasai peserta didik dalam mata pelajaran ter¬tentu sebagai rujukan penyusunan indikator kompe¬tensi dalam suatu pelajaran. Sama halnya dengan standar kompetensi, kompetensi dasar dirumuskan dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diukur. Mislanya: membaca, menghitung, membandingkan, menyusun, memproduksi dll
.
C. Indikator Hasil Belajar
Indikator hasil belajar merupakan uraian kemampuan yang harus dikuasai siswa dalam berkomunikasi secara spesifik serta dapat dijadikan ukuran untuk menilai ketercapaian hasil pembelajaran. Siswa hendaklah diberi kesempatan untuk menggunakan keterampilan, pengetahuan, atau sikap yang sudah mereka kembangkan selama pembelajaran dalam menyelesaikan tugas-tugas yang sudah ditentukan.
Dengan kata lain indikator pencapaian kompetensi, adalah perilaku yang dapat diukur dan/atau diobservasi untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang menjadi acuan penilai¬an mata pelajaran. Indikator pencapaian kompetensi dirumuskan dengan menggunakan kata kerja opera¬sional yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan

D. Alokasi waktu
Untuk merencanakan pembelajaran , alokasi waktu yang diperlukan untuk mempelajari satu materi pelajaran perlu ditentukan. Penentuan besarnya alokasi waktu ini sangat tergantung kepada keluasan, dan kedalaman materi, serta tingkat kepentingannya dengan keadaan dan kebutuhan setempat. alokasi waktu, ditentukan sesuai dengan keperluan un¬tuk pencapaian KD dan beban belajar

E. Tujuan Pelajaran
Tujuan pembelajaran, adalah konsepsi hasil belajar siswa yang diharapkan setelah pembelajaran berlangsung. Tujuan pembelajaran harus mengandung konsep ABCD ( Audien = siswa, Behavior = Perilaku, Content = materi ajar, dan Deggri = mutu /hasil belajar)
Dengan kata ain, Tujuan pembelajaran harus menggambarkan proses dan ha¬sil belajar yang diharapkan dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar. Tujuan pembelajaran, boleh salah satu atau keseluruhan tujuan pembelajaran

F. Materi Pokok atau Bahan Pelajaran Esensial

Materi pokok/pembelajaran adalah pokok-pokok materi yang harus dipelajari siswa sebagai sarana pencapaian kompetensi dasar yang harus dikuasi oleh siswa. Perbedaan antara kompetensi dengan hasil belajar terdapat pada batasan dan patokan-patokan kinerja siswa yang dapat diukur.
Jika kompetensi dasar dirumuskan dalam bentuk kata kerja operasional, maka materi pokok/pembelajaran dirumuskan dalam bentuk kata benda, atau kata kerja yang dibendakan. Dengan kata lain materi ajar, memuat fakta, konsep, prinsip, dan pro¬sedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator pencapaian kompe¬tensi.
Materi pembelajaran sebagai hasil belajar siswa diklasifikasikan kepada dua standar pengetahuan. Pertama, pengetahuan deklaratif berisi informasi, konsep, generalisasi, fakta, urutan sebab-akibat (peristiwa), urutan waktu (episode). Kedua, pengetahaun prosedural berisi keterampilan proses (algoritma, strategi, dan Makroprosesor). Untuk selanjutnya, materi pembelajaran dikelompokan kepada 4 jenis yaitu, fakta, konsep, prinsip, dan prosedur.

G. Penentuan Pengalaman Langkah Kegiatan Belajar Siswa
Penentuan pengembangan pengalaman belajar siswa harus meliputi (1) pengembangan ranah (kognitif, psikomotorik, dan afektif). (2) pengembangan kecakapan hidup/life skill; (personal skill, thnking skill, social skill, academik skill, vocational skill).
1. PENDEKATAN DAN METODE
Pendekatan pembelajaran yang menunjang penciptaan siswa belajar secara aktif dan dapat memotivasi belajar adalah pembelajaran bermakna. Model pembelajaran ini disarankan sebagai pengembangan silabus lebih lanjut.
Metode pembelajaran, digunakan oleh guru untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembela¬jaran agar peserta didik mencapai kompetensi dasar atau seperangkat indikator yang telah ditetapkan. Pemi¬lihan metode pembelajaran disesuaikan dengan situ-asi dan kondisi peserta didik, serta karakteristik dari setiap indikator dan kompetensi yang hendak dicapai pada setiap mata pelajaran.

2. LANGKAH KEGIATAN PEMBELAJARAN
Tahapan-tahapan kegiatan belajar mengajar atau langkah pembelajaran bermakna meliputi: “pemanasan /apersepsi, eksplorasi, Elaborasi, Konfirmasi pembelajaran, refleksi pembentukan sikap dan perilaku dan penilaian formatif”.
1. Kegiatan Awal
Pendahuluan merupakan kegiatan awal dalam suatu pertemuan pembelajaran yang ditujukan un¬tuk membangkitkan motivasi dan memfokuskan perhatian peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran.
1) Apersepsi yaitu Pelajaran dimulai dengan hal-hal yang diketahui dan dipahami siswa.
2) Motivasi siswa dibutuhkan dengan bahan ajar yang menarik dan berguna bagi siswa.
3) Siswa didorong agar tertarik untuk mengetahui hal-hal yang baru melalui pretes
Kegiatan ini berlangsung dengan alokasi waktu 5 – 10 %
2. Kegiatan Inti
Kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai KD. Kegiatan pembelajaran di¬lakukan secara interaktif, inspiratif, menyenang¬kan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Kegiatan ini dilakukan secara sistematis dan sistemik melalui proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi.
a. Eksplorasi (Memperoleh/mencari informasi baru)
1) Materi/keterampilan baru diperkenalkan.
2) Kaitan materi ini dengan pengetahuan yang sudah ada pada siswa.
3) Cari metodologi yang paling tepat dalam meningkatkan penerimaan siswa akan materi baru tersebut.
Kegiatan ini berlangsung dengan alokasi waktu antara 25-30%
b. Elaborasi (Negosiasi dalam pencapaian pengetahuan baru)
1) Libatkan siswa secara aktif dalam menafsirkan dan memahami materi ajar baru.
2) Libatkan siswa secara aktif dalam pemecahan masalah.
3) Letakkan penekanan pada kaitan struktural, yaitu kaitan antara materi ajar yang baru dengan berbagai aspek kegiatan dan kehidupan di dalam lingkungan.
4) Cari metodologi yang paling tepat sehingga materi ajar dapat terproses menjadi bagian dari pengetahuan siswa.
Kegiatan ini berlangsung dengan alokasi waktu antara 35-40%

c. Konfirmasi (Pembuktian ketepatan belajar)
1) Siswa membangun sikap dan perilaku baru dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan pengertian yang dipelajari.
2) Cari metodologi yang tepat agar terjadi perubahan pada sikap dan perilaku siswa.
Kegiatan ini berlangsung dengan alokasi waktu 5%

3. Kegiatan Akhir
Penutup merupakan kegiatan yang dilakukan un¬tuk mengakhiri aktivitas pembelajaran yang dapat dilakukan dalam bentuk rangkuman atau simpul¬an, penilaian dan refleksi, umpan balik, dan tindaklanjut
a. Refleksi (Pengetahuan diproses menjadi nilai, sikap, dan perilaku)
1) Siswa didorong untuk menerapkan konsep atau pengertian yang dipelajarinya dalam kehidupan sehari-hari.
2) Cari metodologi yang tepat agar terjadi perubahan pada sikap dan perilaku siswa.
b. Penilaian formatif
1) Kembangkan cara-cara untuk menilai hasil pembelajaran siswa
2) Cari metodologi yang paling tepat yang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai
Kegiatan ini berlangsung dengan alokasi waktu 20%

H. Sarana/media dan Sumber belajar

Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar, serta materi ajar, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kom¬petensi
Sarana pembelajaran sangat membantu siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Sarana yang dimaksud adalah media/peraga yang menarik minat, merangsang tumbuhnya pengertian, sederhana, mengurangi verbalisme, berguna dan multifungsi.
Sumber belajar yang utama bagi siswa selaian nara sumber/guru, adalah sarana cetak seperti: buku, brosur, majalah, surat kabar, poster, lembar informasi lepas, naskah, peta, foto, dan lingkungan sekitar baik lingkungan alam, lingkungan sosial, maupun lingkungan budaya, termasuk media elektronika (radio, tv, internet dll).

I. Evaluasi / Penilaian
Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar siswa yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan. Dengan demikian, Prosedur dan instrumen penilaian proses dan hasil belajar disesuaikan dengan indikator pencapaian kom¬petensi dan mengacu kepada Standar Penilaian
Test ialah suatu percobaan yang diadakan untuk mengetahui ada atau tidaknya hasil-hasil pelajaran tertentu pada seorang murid atau kelompok murid. Tes adalah alat evaluasi untuk mengukur tingkat hasil kegiatan belajar mengajar. Test adalah penilaian yang komprehensif terhadap seorang individu atau keseluruhan usaha evaluasi program. Test lebih bersifat konprehensif. Pada Penilaian Hasil belajar dapat dilakukan dengan suatu tes dan nontes.
Macam-Macam Evaluasi Hasil Belajar
Bentuk evaluasi beragam ada bentuk tes ada juga nontes (bukan tes), test tertulis, tes lisan dan perbuatan (sikap). Namun secara umum bentuk ragam tes dikelompokkan kedala 3 jenis evaluasi.
Berikut ini dijelaskan 3 jenis test menurut para ahli:
a) Tes diagnostik adalah tes yang digunakan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan siswa sehingga berdasarkan kelemahan –kelemahan tersebut dapat dilakukan pemberian perlakuan yang tepat.
b) Test Formatif dimaksudkan untuk mengetahui sejauhmana siswa telah terbentuk setelah mengikuti sesuatu program tertentu .
c) Test sumatif adalah suatu sistem evaluasi yang dilaksanakan setelah berakhirnya pemberian sekelompok program atau sebuah program yang lebih besar.

2) Pretes dan Postes sebagai Salah satu bentuk Penilaian Hasil Belajar Mengajar
Tes ditinjau dari cara pengadministrasian dibedakan atas pretes (tes awal) yang dilakukan sebelum diberikannya perlakuan, dan post-test (test-akhir) yang dilakukan sesudah adanya perlakuan. Pada prinsifnya pretes dilaksanakan untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa sebelum dilaksanakan Proses Belajar Mengajar, sedangkan post-test dilaksanakan pada akhir proses belajar-mengajar untuk evaluasi mengukur dan menilai hasil belajar siswa..

3) Teknis Pengujian Aspek Kemampuan dasar
a) Tes Kognitif
Tes kognitif adalah pengujian terhadap ranah pengetahuan teoritis yang bersifat hapalan. Bentuk test : Pertanyaan lisan di kelas, PG, BUO, BUNO, Jawaban singkat, menjodohkan.
b). Tes Psikomotorik
Tes psikomotorik adalah pengujian terhadap ranah kemampuan tindakan/perbuatan hasil belajar yang dicapai siswa. Bentuk test disebut test performans terdiri dari : (1) Test paper and pencil, (2) Tes identifikasi, (3) tes simulasi, (4) Tes unjuk kerja (Work sample), seperti : membaca, menulis, menghitung, mengukur, menggambar, kerja kelompok.
c) Tes Afektif
Tes afektif yaitu pengujian terhadap ranah kemampuan sikap dan minat belajar siswa. Jenis soal untuk ranah afektif salah satunya adalah skala likert. (SS,S,N,TS,STS).
Alternatif lain : Hubungan Sebab Akibat dengan penekanan analisis.,
d) Portofolio
Portofolio adalah kumpulan pekerjaan seseorang, dalam bidang pendidikan berarti kumpulan tugas-tugas siswa. Penilaiannya pada dasarnya bersifat individual yang cenderung bentuk uraian dan tugas di rumah. Jadi protopolio suatu metode pengukuran dengan melibatkan siswa untuk menilai kemajuannya dalam bidang studi tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Budiansyah, Dasim. 2002.Model Pembelajaran berbasis Portofolio. Jakarta: Puskur Balitbang Depdiknas RI.
Dahlan, M.D. 1990. Model-Model Mengajar.Bandung : Dipenogoro.
Depdiknas RI. 2001 . Kurikulum Berbasis Kompetensi, Jakarta: Pusat Kurikulum Badan Penelitian dan Pengembangan Depdiknas RI.
Depdiknas RI. 2002 . Pola Induk Sistem Pengujian Hasil Kegiatan Pembelajaran Berbasis Kemampuan Dasar SMU. Jakarta: Direktorat Pendidikan Umum- Dirjendikdasmen-Depdiknas RI.
Depdiknas RI. 2003a . Kurikulum 2008 SMA, Pedoman Umum Pengembangan Silabus. Jakarta: Depdiknas RI.
Depdiknas RI. 2003b . Kurikulum 2008 SMA, Pedoman Umum Pengembangan Penilaians. Jakarta: Depdiknas RI.
Djahiri, Kosasih. 1980. Pengajaran Studi Sosial Dasar-dfasar Pengertian Metodologi, Model Belajar- Mengajar Ilmu Pengetahuan Sosial.Bandung: LPP-IPS-FKIS –IKIP Bandung
Karli, Hilda dan Margaretha SY. 2002. Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Bina Media Imformasi
Mulyasa, E. 2002. Kurikulum Berbasis Kompetensi . Bandung: Ramaja Rosda Karya
Mulyasa, 2008, KTSP, Bandung : Rosda Karya
Mulyasa, 2008, Implementasi KTSP, Jakarta: Bumi Aksara
Puskur, Balitbang. 2002A.2.1. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta Pusat : Depdiknas RI
Puskur, Balitbang, 2002A.2.5. Pengembangan Silabus Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta Pusat : Depdiknas RI
Puskur, Balitbang, 2002A.2.6. Ringkasan Kegiatan Belajar Mengajar Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta Pusat : Depdiknas RI
Puskur, Balitbang, 2002A.2.8. Ringkasan Penilaian Berbasis Kelasr Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta Pusat : Depdiknas RI
Rusyana, Yus. 2002 Pembelajaran Berbahasa dalam Kurikulum Berbsais Kompetensi. Bandung : (Makalah bahan Seminar) FKIP Uninus.
Semiawan, Cony: 1984: Pendekatan Keterampilan Proses, Jakarta : Gramedia
Sukmadinata, Nana Saodih, 2009. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek , Bandung, Remaja Rosda Karya

Alternatif Metode Pembelajaran dalam Kurtilas dan Kurnas

November 3, 2015

ALTERNATIF METODE DALAM PEMBELAJARAN DALAM KURIKULUM 2013 (KURTILAS) DAN KURIKULUM NASSIONAL

Oleh : E.T.Rustanto Zaenal Arifin. S.Pd.
Pendahuluan
elajar dan mengajar merupakan dua konsep yang hanya dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Kedua kegiatan tersebut terpadu dalam suatu kegiatan yang disebut interaksi belajar mengajar. Menurut Nasution (1982) mengajar adalah suatu aktivitas mengorganisasikan atau mengatur lingkungan sebaik baiknya dan menghubungkan dengan siswa sehingga terjadi propses belajar. Dengan demikian mengajar berarti membimbing aktivitas siswa, sedangkan Mengajar mengacu pada apa yang dikerjakan guru sebagai pernimpin, pengelola, mengatur lingkungan belajar dan membimbing aktivitas siswa. Dalam kegiatan belajar mengajai tersebut diperlukan metode, media, dan sumber pembelajaran untuk memperlancar tercapainya tujuan belajar.
Setelah mempelajari materi pelajaran dan menyelesaikan tugas tugas dalam bab ini, diharapkan Anda mampu :
1) Menjelaskan pengertian tiap tiap metode belajar mengajar.
2) Mengenal jenis jenis dari hebempe metode belajar Mengajar.
3) Menjelaskan langkah pelaksanaan beberapa metode
Bertolak dan bermuara.pada kebutuhan Anda sebagai calon guru, maka dalam model 1 ini akan disajikan tentang berbagai metode belajar mengajar agar kelak Anda mampu mclaksanakan tugas utama guru yakni mengajar. Untuk mcrealisasikan hal tersebut, maka dalam bab ini secara berturut-turut akan dibahas tentang metode belajar mengajar ceramah, tanya jawab, diskusi, kerja kelompok, pemberian tugas, demonstrasi, eksperimen, simulasi, dan metode belajar mengajar penemuan/inquiri.

P
ada umumnya dunia luar ilmu pendidikan hanya mengerti istilah metode mengajar. Mereka mengenal adanya guru yang menggunakan berbagai cara mengajar yang berbeda. Itulah metode mengajar, salah satu kemampuan pokok yang harus dikuasai seseorang yang memi1ih Guru / instruktur /widya iswara sebagai profesi. Kemampuan menggunakan metode itu dianggap sebagai petunjuk Mengenai apakah seseorang yang mengajar itu terdidik dengan baik atau tidak
Pada masa sekarang seorang guru/instruktur tidak hanya dituntut untuk tahu dan mampu inenggunakan metode mengajar. Di bidang pengajaranan, ilinu pendidikan telah mengembangk.an berbagai konsep yang lebih utuh untuk dikuasai oleh seorang calon guru. Bidang kajian pengajaran (teaching) telah menghasilkan pengetahuan dalam model. strategi, metode, dan teknik mengajar. Istilah istilah ini akan dibahas secara ringkas agar jelas dalam penggunaannya.
Teknik Mengajar = Ketrampilan yang diperlukan guru dalam menggerakkan suatu bagian aktivitas belajar. Misalnya: Mengatur suara, mengatur kecepatan, mem¬birikan pertanyaan, menjawab pertanyaan, minarik perhatian, menggunakan OHP, memakai papan tulis, menulis, dan sebagai¬nya.
Metode Mengajar = Cara yang digunakan guru untuk memberi kesempatan peserta didik untuk belajar. Misalnya : Ceramah (Lecturing, CPTT,CPDT, CPDL) Diskusi, Tanya Jawab, kerja kelompok, pemberian tugas, demonstrasi, eksperimen, simulasi, dan inquiri/diskoveri, dan sebagainya.
Strategi Mengajar = Cara yang digunakan dalam mengelola metode dan lingkungan kelas. ( rekayasa psikologis sedemikian rupa untuk mencapai tujuan pengajaran tertentu). Strategi atau pendekatan, misalnya: Strategy expository (kognitif, hafalan, pengembangan, pengaturan, tujuan), strategy Enquiry /discovery (strategi afektif, Pengajaran mandiri, Pengajaran Tim, Be¬lajar kelas, Belajar Kelompok, SSAL/CBSA), strategy mastery of learning ( strategi afektif / bermakna, strategy psikomotorik/Praktik kerja, belajar tuntas), dan strategy humanistic learning (strategy Contextual Teaching and Learning/CTL, Cooperative learning, Contruktivisme,Multimetode, multimedia, multievaluasi systeem, TIC).
Model Mengajar = Rencana yang digunakan dalam mengatur keseluruhan proses kegiatan kelas be¬serta lingkungan belajarnya. (Istilah kelas di sini digunakan untuk semua tempat terjadi interaksi pen¬dikan). Misalnya : Model Pengajaran Induktif, Inkuiri, Pencapaian Konsep, Non Directive, Sistem Kon¬septual Bermain Peran, dan sebagainya.

Model model.Mengajar ini dikelompokkan oleh Joyce dan Weil menjadi 4 kelompok yaitu: (1) Model Pengolahan Informasi, (2) Model Personal, (3) Model Interaksi Sosial ; dan (4) Model Behavioural.
Dari uraian di atas , bagian yang paling sentral adalah Teknik mengajar sebagai suatu kompetensi yang harus dikuasai oleh seorang guru. Teknik ini bersifat keterampilan dan menjadi dasar untuk menggerakkan metode. Dua guru yang menguasai suatu teknik mengajar pada tingkat yang berbeda akan berbeda pula dalam menga¬jar walaupun keduanya menggunakan metode yang sama. Misalkan, se¬orang guru yang mahir menggunakan teknik pengaturan suara akan berbeda penampilannya dibandingkan guru lain yang kurang mengua¬sai teknik tersebut walaupun keduanya menggunakan metode ceramah.
Metode diperlukan pada waktu menggunakan suatu model menga¬jar tertentu. Model hanya merupakan patokan bagi guru untuk mela¬kukan proses dalam interaksi belajar mengajar. Proses tersebut baru terjadi kalau guru menggunakan metode. Hal ini dikarenakan proses memerlukan suatu kegiatan tertentu. Kegiatan tertentu itu menggunakan cara tertentu yang dipunyai oleh metode.
Model dapat digerakkan dengan strategi terten¬tu. Strategi yang dikenal adalah pengajaran mandiri, pengajaran dalam tim, dan pengajaran teman sebaya. Strategi terahkir ini. di¬lakukan oleh teman sekelas dan harus berada di bawah pengawasan seorang guru. Sedangkan dalam pengajaran mandiri seorang guru se¬penuhnya mengatur interaksi kelas.

Berikut ini dipaparkan beberapa metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran Di antaranya sebagai berikut.

1. Metode Ceramah
Metode ceramah digunakan oleh para guru dengan alasan klise “keterbatasan waktu dan buku teks. Hal ini menunjukkan adanya kecenderungan menganggap metode ceramah sebagai’ metode belajar mengajar yang mudah digunakan. Kenyataan menunjukkan babwa tidak setiap guru dapat menggunakan metode ceramah dengan benar. Metode ceramah bergantung kepada kualitas personalitas guru, yakni suara, gaya bahasa, sikap, prosedur, kelancaran, kemudahan bahasa, dan keteraturan guru dalam memberi penjelasan: yang tidak dapat dimiliki secara mudah o1eh setiap guru (Gage dan Berliner, 1984: 482).

a. Pengertian Metode Ceramah

Metode ceramah atau kuliah mimbar adalah suatu bentuk pengajaran di mana dosen mengalihkan informasi kepada sekelompok besar siswa/mahasiswa dengan cara yang terutama bersifat verbal /lisan (Tjipto Utomo dan Ruijter, 198 5 : 184). Sebagaimana Gilstrap dan Martin (1975 : 8) mendefinisikan metode ceramah sebagai suatu metode mengajar di mana guru mernberi penyajian fakta fakta dan prinsip prinsip secara lisan.
Dari dua. definisi metode ceramah sebelumnya, dapat kiranya kita mendefinisikan metode ceramah sebagai sebuah bentuk interaksi belajar mengajar yang dilakukan melalui penjelasan dan penuturan secara lisan oleh guru terhadap sekelompok peserta didik. Dengan demikian, dalam pelaksanaan metode ceramah, guru akan menjadi pusat/titik tumpuan keberhasilan metode tersebut. Lalu 1intas pembicaman atau kornunikasi hanya searah yakni dari guru ke para siswa. Akibat dari adanya kenyataan ini, adalah : (i) guru guru haruslah memilik, keterampilan menjelaskan (explaining skills), dan (ii) guru memiliki kemampuan memilih dan menggur.akan alat bantu instruksional yang tepat dan pntensial untuk meningkatkan ceramah.

b. Metode ceramah sesuai digunakan.bila :
1) tujuan dasar pengajamn adalah menyampaikan informasi baru,
2) isi pelajaran langka, atau penemuan baru,
3) isi pelajaran harus, diorganisasikan dan disajikan dalam sebuah cara khusus untuk kelompok tertentu,
4) membangkitkan minat terhadap mata pelajaran,
5) isi pelajaran tidak diperlukan untuk diingat dalam waktu yang lama, dan
6) untuk mengantar penggunaan metode mengajar yang lain dan pengarahan penyclesaikan tugas tugas belajar.

c. Metode ceramah tidak sesuai digunakan bila
1) tujuan pengajaran bukan tujuan perolehan informasi,
2) isi pelajaran perlu diingat dalam jangka waktu yang lama,
3) isi pelajaran kompleks, rinci, atau abstrak,
d. Langkah-langkah Metode Ceramah
1) Mengorganisasikan isi pelajaran yang akan diceramahkan
2) Tahap awal ( pengantar ceramah): Meningkatkan hubungan guru-siswa; meningkatkan perhatian siswa; dan mengemukakan pokok-pokok isi ceramah
3) Tahap pengembangan ceramah: Keterangan singkat/jelas; penggunaan papan tulis; keterangan ulang; perincian / perluasan pelajaran; feedback (balikan) sebanyak-banyaknya, dan mengatur alokasi waktu.
4) Tahap akhir ceramah: rangkuman; korelasi; rencana kegiatan lanjutan.
Pada perkembangannya, metode ceramah dapat dimodifikasi menjadi suatu metode ceramah bervariasi (Lecturing), yang menurut istilah Syah ( 1995:211) disebut metode ceramah plus. Berikut ini tiga macam metode ceramah bervariasi,
1) Ceramah Plus Tanya jawab dan Tugas (CPTT)
a) penyampaian uraian materi oleh guru
b) Pemberian peluang bertanya jawab antara guru siswa
c) Pemberian tugas kepada siswa
2) Ceramah Plus Diskusi dan Tugas (CPDT)
a) Penyampaian uraian materi oleh guru
b) Pemberian peluang Siswa berdiskusi ( baik diskusi kelas maupun kelompok kecil)
c) Pemberian tugas kepada siswa
3) Ceramah Plus Demontrasi dan Latihan (CPDL)
a) Penyampaian uraian materi oleh guru
b) Pemberian Contoh peragaan (Demontrasi)
c) Penyelenggaraan latihan berulang-ulang (drill)

2. Matode Tanya Jawab
Untuk rnengerti tentang metode tanya jawab, ada tiga istilah yang perlu dimengerti terlebih dabulu. Tiga istilah ini adalah pertanyaan, respons, dan reaksi. Secara ringkas ketiga istilah tersebut dapat dijelaskan seperti berikut ini.
Pertanyaan dapat ditandai sebagai kata kata atau kalimat yang digunakan untuk memperoleh respons verbal. Pengertian respons dapat menunjuk kepada pemenuhan dari yang diharapkan sebuah pertanyaan yakni sebuah jawaban. Sisi yang lain, reaksi dapat menunjuk kepada perubahan dan penilaian terhadap pertanyaan atau respons. (Hyman,1974: 289 290)
Agar lebih jelas tentang pertanyaan, respons, dan rekasi seperti diuraikan dalam alinea sebelumnya, berikut ini adalah contoh, dari ketiganya.
Pertanyaan (1) Siapakah tokoh pendidikan yang mendirikan Taman Siswa?
Respons (1) Ki Hajar Dewantara. (respons terhadap pertanyaan 1)
Reaksi (1) Benar! (reaksi terhadap respons 1)
Pertanyaan (2) Siapakah Presiden Republik Indonesia yang pertama?
Reaksi (2) Pertanyaan mudah itu! (Reaksi terhadap pertanyaan 2)
Reaksi (3) Mudah sih mudah, tapi jawabannya apa.? (reaksi terhadap reaksi 2)
Respons (2) Bang Karno. (respons terhadap pertanyaan 2)
Reaksi (4) Tidak salah tetapi yang tepat mestinya adalah Ir. Soekarno.(reaksi terhadap respon 2)

a. Pengertian Metode Tanya Jawab
Metode tanya jawab dapat diartikan sebagai format interaksi antara guru siswa meialui kegiatan bertanya yang dilakukan oleh guru untuk mendapatkan respons lisan dari siswa, sehingga dapat menumbulikan pengetahuan baru pada diri siswa. Pengertian atau batasan metode tanya jawab menggambarkan bahwa dalam metode tanya jawab guru dan siswa keduanya sama sama aktif. Namun demikian, keaktifan siswa tergantung sepenuhnya kepada keaktifan guru. Dengan demikian, keberhasilan metode tanya jawab tergantung pula kepada penguasaan guru terhadap teknik teknik bertanya dan jenis jenis pertanyaan.

b. Prosedur Pemakaian Metode Tanya Jawab

Terdapat empat tahap dalam prosedur pemakaian metode tan,ya jawab, agar pemakaian metode tanya jawab dapat mencapai hasil yang lebih baik. Tahap tahap tersebut adalah sebagai berikut
1) Tahap persiapan tanya jawab.
Langkah persiapan ini dimaksudkan agar guru selalu membuat daftar pertanyaan yang akan diajukan kepada siswa. Pertanyaan hendaknya dirumuskan berdasarkan tujuan yang ingin dicapai dan karakterislik siswa. Selain itu, guru juga sudah memperkirakan alokasi waktu vang dibutuhkan untuk melaksanakan metode tanya jawab.
2) Tahap awal tanya jawab.
Pada awal pertarnuan yang menggunakan metode tinya jawab, guru diharapkan memberikan penjelasan atau pengarahan tentang kegiatan yang akan dilaksanakan. Guru dapat melakukannya dengan memberitahulcan tujuan, langkah langkah kegiatan, dan penjelasan garis besar isi pelajaran.
3) Tahap pengembangan tanya jawab
Apabila guru telah memberikan pengarahan pada tahap awal tanya jawab, maka guru dapat mulai mengembangkan proses tanya jawabnya. Untuk dapat mengembangkan tanya jawab dengan menempuh berbagai variasi dalam mengajukan pertanyaan.
Hyman rnengemukakan, ada lima strategi yang dapat digunakan untuk mernvariasikan pengajuan pertanyaan, yakni :
• The mixed strategy, yaitu suatu strategi yang mengkombinasikan berbagai jenis pertanyaan. Umpamanya dengan mengajukan pertanyaan analisis, kemudian pertanyaan pengetahuan, dan diikuti dengan jenis jenis pertanyaan yang lain. Atau mengkombinasikan pertanyaan apa, bagaimana, mengapa, kapan, dan lainnya.
• The peaks strategy, yaitu sualt strategi berwujud pengajuan pertanyaan pertanyaan yang saling berkaitan kepada seorang siswa, sebelum mengalihkan kepada siswa yang lain. Umpamanya: mulai dengan pertanyaan pengetahuan, kemudian disusul dengan pertan aan pemahaman, dan ditutup dengan pertanyaan pencrapan kepada scorang siswa. Setelah itu, dengan pola yang sama, guru mengajukan pertanyaan kepada siswa yang lain
• The plateaus strategy, yakni suatu strategi yang berwujud pengajuan pertanyaan yang sejenis kepada heberapa siswa (3 4 orang) sebelumnya berpindah ke jenis pertanyaan lain (biasanya yang lebih tinggi tingkat kognitifnya) yang diajukan kepada beberapa siswa lainnya. Umpamanya: guru mengajukan pertanyaan analisis kepada 3 4 orang siswa, kernudian guru mengajukan pertanyaan sintesis kepada 3 4 orang siswa, dan begitu selanjutnya.
• The inductive strategy, yakni suatu strategi yang mengajukan berbagai pertanyaan untuk mendorong siswa menarik kesimpulan atau generalisasi dari pertanyaan yang diajukan guru.
• The deductive strategy, yakni suatu strategi mengajukan pertanyaan yang bertolak dari suatu kesimpulan atau generalisasi, sehingga siswa mampu menguraikan untuk menemukan dasar dasar kesimpulan atau generalisasi tersebut
4) Tahap akhir tanya jawab.
Pada tahap akhir pemakaian tanya jawab, guru bersama para siswa membuat ringkasan isi pelajaran yang telah disajikan selama tanya jawab. Kegiatan ini dimaksudkan untuk pemantapan sajian, dan sekaligus untuk memperoleh umpan balik dari para siswa.
3. Metode Diskusi

Diskusi merupakan suatu istilah atau kegiatan yang sudah biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Diskusi merupakan pembicaraan antara dua orang atau lebih untuk membicarakan suatu masalah. Meskipun kita sering mendengar dan mengenal kata diskusi, namun dalam kenyataannya belum dapat melaksanakan/mengikuti diskusi yang baik.

a. Pengertian Metode Diskusi

Gage dan Berliner (1984:486) mengemukakan bahwa metode diskusi sungguh sungguh teibuka atau bervarias. pengertiannya. Ini merupakan suatu indikasi betapa sulitnya mendefinisikan metode diskusi secara tepat. Girlstrap dan Martin (1975: 15) mengutarakan bahwa metode diskusi merupakan suatu kegiatan di mana sejumlah orang membicarakan secara bersama sama melalui tlikar pendanat tentang suatu topik atau masalah, atau untuk mencari jawaban dari suatu masalah berdasarkan sernua fakta yang memungkinkan untuk itu. Selain itu, metode diskusi juga dapat diartikan sebagai suatu cara penguasaan isi pelajaran melalui wahana tukar pendapat berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh guna memecahkan suatu masalah (Depdikbud., 1986: 19).
Berdasarkan pada uraian dalan alinea pertama, dapat kiranya didefinisikan metode diskusi sebagai suatu kegiatan belajar mengajar yang rnembincangkan suatu topik atau masalah yang dilakukan oleh duaorang atau lebih (dapat guru dan siswa atau siswa dan siswa lain), dimanaorangorang yang berbincang memiliki perhatian yang sama terhadap topik atau masalah yang menjadi pokok pemb’caraan, sehingga mendapatkan berbagai altematif jawaban terhadap topik atau masalah yang didiskusikan.

b. Tujuan Pemakaian Metode Diskusi
Secara terperinci tujuan pemakaian metode diskusi adalah:
1) Mengembangkan keterampilan bertanya, berkomunikasi, menafsirkan, dan menyimpulkan pada diri siswa.
2) Mengembangkan sikap positif terhadap sekolah, para guru, dan bidang studi yang dipelajari.
3) Mengembangkan kemanipuian memecahkan masalah dan konsep diri (self concepts) yang lebih positif.
4) Meningkatkan keberhasilan siswa dalam meneniukakan pendapat.
5) Mengembangkan sikap terhadap isu isu kontroversial.(Gilstrap dan Martin, 1975 : 15; Gage & Berliner, 1984 : 486; Canei, ctkk., 1986: 40)

c. Jenis jenis Diskusi

Ada berbagai jenis diskusi ydng dapat dilaksanakan oleh guru, hanya beberapa di antaranya saja yang sekiranya dapat dilaksanakan di sekolah dasar. Jenis jenis diskusi yang memungkinkan dilaksanakan bagi para siswa sekolah dasar meliputi: diskusi kelas, diskusi kelompok, dan sumbangan pendapat.

1) Diskusi Kelas
Diskusi kelas adalah salah satu jenis diskusi yang melibatkan seluruh siswa yang ada dalam kelas sebagai peserta diskusi. Diskusi kelas dimaksudkan untuk membicarakan topk tertentu yang sebclumnya telah direncanalcan dengan tujuan untuk (i) Mengenal dari mengoldh masalah. (ii) Membuat suatu masalah menjadi menarik. (iii) Menciptalcan situasi informal.(iv) Membantu siswa mengemukakan
pendapat, terutama bagi mereka yang tidak suka bicara.

2) Diskusi Kelompok
Diskusi kelompok adalah pembicaraan atau pertimbangan tentang suatu topik yang menjadi perhatian bersama di antara 3 6 orang peserta diskusi, di mana para peserta berinteraksi tatap muka ~,ecara dinamis dan mendapat bimbingan dari seorang peserta yang disebut ketua atau moderator (Mudjiono, 1992:54) Diskusi kelompok ada duamacam yakni kelompok dadakan (buzz group) dan kelompok sindikat (sinidicate group).
• Kelompok Dadakan (Buzz Group)
Kelompok dadakan adalah suatu jenis diskusi kelompok kecil yang beranggotakan 3 4 orang, yang bertemu secara bersama sama membicarakan suatu topik yang sebelumnya telah dibicarakan secara klasikal. Diskusi kelompok dadakan ini dapat dilaksankan di tengah tengah jam pelajaran atau di akhir jam pelajaran dengan maksud menajamkan kerangka isi pelajaran, memperjelas isi pelajaran, atau menjawab pertanyaan pertanyaannya. Hasil belajar yang diharapkan ialah agar segenap individu membandingkan persepsinya yang mungkin berbeda beda tentang isi pelaJaran. Selain itu juga untuk membandingkan.
• Kelompok Sindikat (Syndicate Gioup)
Kelompok sindikat merupakan salah satu jenis diskusi kelompok keciI (3 6 di mana setiap kelompok mengerjakan tugas yang berbeda antara satu kelompok dengan kelompok yang lain. Setiap kelompok akan melaporkan basil pekerjaannya di depan kelas dalam suatu ,diskusi pleno atau diskusi kelas. Dalam kelompok sindikat, guru berperan sebagai orang yang menjelaskan garis besar permdsalahan kepada seluruh siswa (kelas). Guru menggambarkan aspek aspek permasalahan, kemudian tiap tiap sindikat (kelompok) diberi tugas untuk mempelajari aspek tertentu.

3) Sumbang Pendapat (Brainstorming)

Sumbang pendapat (brainstorming) atau sering pula disebut inventarisasi (pengumpulan) gagasan merupakan salah satu jenis metode diskusi. Pada sumbang pendapat ini terjadi kegiatan pencurahan gagasan secara spontan yang herhubungan dengan bidang minat atau kebutuhan kelompok untuk mencapai keputusan. (Mudjiono, 1992: 57). Dalam kegiatan Sumbang pendapat, gagasan-gagasan yang dikemukakan oleh para siswa dikumpulkan oleh para guru dengan cara mencatatnya di papan tulis. Penulisan gagasan yang dikemukakan para siswa tidak mengalami penibahan sedikit pun dari guru. Sumbang pendapat biasanya dilaksanakan dalam waktu sekitar 5 15 menit. Sumbang pendapat atau inventarisasi gagasan sesuai untuk:
• suatu kelas yang berharap dapat mengenali berbagai gagasan pilihan (alternatif) sebelum mendapat landasan pemikiran untuk membuat suatu keputusan;
• kebutuhan untuk mempertimbangkan berbagai aspek dari suatu masalah sebelum hal itu dapat didefinisikan; atau
• memaksimalkan partisipasi dari semua siswa dalam kelas, terutama memberikan kesempatan yang akan dikemukakan apakah merupakan saran atau gagasan yang benar.

d. Prosedur Pemakaian Metode Diskusi
Pelaksanaan metode diskusi, terdapat tiga tahap yaitu: Sebelum pertemuan, selama pertemuan, dan setelah pertemuan. Pada setiap tahapan terdapat berbagai kegiatan yang harus dilaksanakan oleb guru dan/atau siswa.
1) Tahapan, sebelum pertemuan
Kegiatan yang harus dilaksaviakan pada tahapan ini adalah:
• Pem1ihan topik diskusi, yakni suatu kegiatan yang dimaksudkan untuk menentukan topik diskusi; untuk melakukannya guru dan atau siswa menggunakan tujuan yang ingin dicapai serta minat dan latar belakang siswa sebagai kriteria;
• membuat rancangan garis besar diskusi yang akan dilaksanakan jika memungkinkan bagi guru);
• menentukanjenis diskusi yang akan dilaksanakan;
• mengorganisasikan para siswa dan formasi kelas sesual dengan jenis diskusinya.
2) Tahapan, selama perternuan
Selama perternuan diskusi dilaksanakan, sejumlah kegiatan yang harus dilaksanakan oleh guru dan para siswa ialah:
• guru memberikan penjelasan tentang tujuan diskusi, topik diskusi, dan kegiatan diskusi yang akan dilakukan;
• para siswa atau para siswa dan guru melaksanakan kegiatan diskusi (sesuai jenis diskusi yang digunakan);
• pelaporan dan penyimpulan hasil diskusi oleh siswa bersama guru; dan
• pencatatan hasil diskusi oleh siswa.

3) Tahapan, setelah perternuan
Kegiatan pada tahapan setelah pertemuan ini dilakukan oleh guru.
• membuat catatan tentang gagasan gagasan yang belum ditanggapi dan kesuliatan yang timbul selama diskusi; dan
• mengevaluasi diskusi dari berbagai dimensi dan mengumpulkan evaluasi dari para siswa serta lembaran kornentar.

4. Metode Kerja Kelompok
Kerja kelompok merupakan salah satu metode belajar mengaJar yang memiliki kadar CBSA yang tinggi. Metode kerja kelompok menuntut persiapan yang jauh berbeda bila dibangdingkan dengan format belajar mengajar ekspositorik. Bagi mereka yang sudah terbiasa dengan strategi ekspositorik, memerlukap waktu untuk berlatih menggunakan metode kerja kelompok ini. Untuk dapat mengenal lebih jauh tentang metode kerja kelompok, Anda dapat mengkajinya melalui penitahasan berikilt ini.

a. Pengertian Metode Kerja Kelompok

Istilah kerja kelompok dapat diartikan sebagai bekerjanya sejumlah siswa, baik sebagai anggota kelas secara keseluruhan atau sudah terbagi menjadi kelompok kelompok yang lebih kecil, untuk mencapai suatu tujuan tertentu secara bersarna sarna. Metode kerja kelompok dapat diartikan sebagai format belajar mengajar yang menitikberatkan kepada interaksi antara anggota yang satu dengan anggota yang lain dalam suatu kelompok guna menyelesaikan tugas tugas belajar secara bersama sama. Dengan kata lain, kerja kelompok juga ditandal oleh: (i) adanya tugas bersarna, (ii) pembagian tugas dalam kelompok, dan (iii) adanya kerja sama antara anggoya kelompok dalam melaksanakan tugas kelompok.
Berptjak pada pengertian kerja kelompok di atas, membawa konsekuensi kepada setiap guru yang akan menggunakannya. Konsekuensi tersebut adalah guru harus benar benar yakin bahwa topik yang dibicarakan layak untuk digunakan dalam kerja kelompok. Tugas yang diberikan kepada kelompok hendakhya diruniuskansecarajelas. Dalam pemakaian metode kerja kelompok, tugas yang diberikan dapat sama untuk setiap kelompok (tugas paralel) atau berbeda beda tetapi saling mengisi untuk setiap kelompok (tugas komplementer).

b. Tujuan Pemakaian Metode Kerja Kelompok

Metode kerja kelompok digunakan dalam proses belajar mengajar dengan tujuan: (i) memupuk kemauan dan kemampuan kerja sama di antara para siswa, (ii) meningkatkan ke-terlibatan sosio emosional dan intelektual para siswa dalam proses belajar¬ mengajar yang di selenggarakan, dan (iii) meningkatkan perhatian terhadap proses dan hasil dari proses belajar mengajar secara berimbang.,

c. Jenis jenis Pengelompokan

Ada berbagai jenis cara pengelompokan yang dapat dila~sanakan oleh guru, cara ‘cara tersebut adalah:

1) Pengelompokan didasarkan atas ketersediaan fasilitas.
2) Pengelompokan atas dasar perbedaan individual dalam minat belajar.
3) Pengelompokan didasarkan atas perbedaan individual dalam kemampuan belajar.
4) Pengelompokan untuk memperoleh dan memperbesar pertisipasi siswa sebagai anggota kelompok
5) Pengelompokan atas dasar pembagian pekerjaan.

d. Prosedur Pemakaian Metode Kerja Kelompok

Berdasarkan rambu rambu penyelenggaraan proses belajar mengaJar metode kerja kelompok, dapat kiranya dikemukakan prosedur pemakaian metode keria kelompok seperti terurai berikut ini.

1) Pemilihan topik atau tugas kerja kelompok
Pemilihar. topik atau tugas yang merupakan langkah awal pemakaian metode kerja kelompok dapat dilaksanakan oleh guru dengan jalan memilih dan menetapkannya sendiri, atau memilih dan menetapkan bersama sama dengan siswa¬
2) Pembentukan kelompok sesuai tujuan.
Tahapan Ini meminta kepada guru untuk membagi kelas menjadi kelompok kelompok sesuai tujuan yang ingin dicapai’ melalul kerja kelompok, Penyeragaman kemampuan kelompok diusahakan oleh guru dengan cara pembentuk kelompok berdasarkan kemampuan tiap tiap siswa atau mernbentuk kelompok dengan anggotanya acak.
3) Pembagian topik atau tugas yang harus dikerjakan oleh kelompok.
Tahapan ini merninta kepada guru untuk memben’tabukan topik atau tugas untuk tiap tiap kelompok. di mana topik atau tugas yang diberitahukan haruslah jelas bagi kelompok. Guru hendaknya menjelaskan tugas atau topik kepada kelompok, bilarnana kelompok belum, mengerti. Hal ini harus dilakukan oleh guru, jika guru menginginkan kerja kelompok bedalan dengan lancar.
4) Proses kerja kelompok
Pada tahap ini setiap kelompok melaksanakan: penjajagan ternadap tugas atau topik yang dibedakan oleh guru, pemahaman terhadap tugas atau topik kelompbk, dan penunaian atau penyelesaian tugas. Guru pada tahapan ini melakukan pengamatan, memberikan saran bila diperlukan, dan melaksanakan penilaian terhadap kelompok yang sedang bekerja.
5) Pelaporan hasil kerja kelompok
Setelah semua kelompok menyelesaikan tugasnya, maka mereka berkewajiban untuk melaporkan hasil kerja mereka. Laporan hasil kerja kelompok, dapat dilakukan secara lisan atau secara tertulis.
6) Penilaian pemakaian metode kerja kelompok
Berdasarkan hasil kerja kelompok seita pelaksanaan penyelesaian hasil kerja kelompok serta pelaksanaan penyelesaian tugas (proses kerja kelompok), guru melakukan penilaian keberhasilan pemakaian metode kerja kelompok.

5. Metode Pemberian Tugas
Kegiatan belajar mengajar mempersyaratkan bahwa guru tidak saja menyampaikan isi pelajaran, tapi juga memberikan tugas kepada siswa dengan sebaik baiknya. Seyogianya guru memiliki pengetahuan dan keterampilan menggunakan metode pemberian tugas. Apa, kapan, dan bagaimana metode pemberian tugas, dapat dipelajari pada pembahasan berikul: ini.

a. Pengertian Metode Pernberian Tugas
Metode pemberian tugas dapat disamakan dengan metode resitasi (recitation method). Metode pemberian tugas merupakan metode yang efektif yang lain. Metode pemberian tugas pada umumnya ditandai adanya suatu pembahasan pertanyaan dan jawaban. Secara logis, metode pemberian tugas bergantung pada umpan balik persona;! (persoral feedback) yakni umpan balik yang ditujukan kepada setiap penjawab secara pribadi. Adanya tuntutan umpan balik personal ini, mengisyaratkan bahwa metode periberi an tugas kurang bijaksana diberikan untuk pertemuan yang jumlah siswanya lebih dari 40 orang.
Metode pemberian tugas dapat diartikan sebagai suatu format interaksi belajar mengaiai yang ditandai adanya satu atau lebih tugas yang diberikan oleh guru, dan penyelesaian tugas tersebut dapat dilakukan secara perseorangan atau secara kelompok sesuai dengan perintahnya.
1) tugas dapat ditujukan, kepada para siswa secara perseorangan. kelompok, atau kelas;
2) tugas dapat diselesaikan atau dilaksanakan di lingkungan sekolah (dalam kelas atau luar kelas) dan di luar sekolah;
3) tugas dapat berorientasi pada satu bidang studi ataupun berupa integrasi beberapa bidang studi (unit);
4) tugas dapat ditujukan untuk meninjau kembali pelajaran yang baru, mengingat pelajaran yang telah diberikan, menyelesaikan latihan latihan pelajaran, mengumpulkan informasi atau data yang diperlukan untuk memecahkan masalah, serta tujuan tujuan yang lain.

b. Jenis jenis Tugas
Berdasarkan pendapat Davies (1987), dan Gage & Berliner (1984) dalam (Mudjiono, 1992:69) Jenis tugas dapat dipilah-pilah sebagai berikut:
1) Tugas latihan
Tugas latihan merupakan tugas untuk melatih siswa menyelesaikan permasalahan yang berhubungan dengan pembahasan sebelumnya. Tugas latihan diberikan pada jam pelajaian atau di luar jam pelajaran, disesuaikan dengan kebutuhan dan ketersediaan waktu.
2) Tugas membaca/mempelajarl buku tertentu
Guru menugaskan kepada para siswa, baik perseorangan atau kelompok, membaza dap mempelajari beherapa halaman atau bab tertentu dari sebuah buku di luar jam pelajaran.
3) Tugas mempelajari suatu topik atau pokok bahasan.
Guru menugaskan kepada para sisya secara perorangan atau kelompok mempelajari sendiri topik atau pokok bahasan tertentu. Tugas ini menuntun para siswa ke arah percarian sumber belajar yang berbobungan dengan topik atau pokok bahasan yang harus dipelajari.
4) Tugas unit/proyek
Guru menugaskan kepada para siswa berdasarkan unit yangdipelajari, atau menugaskan kepada para siswa menyelesaikan suatu. proyek yang akan menghasilkan hasil tertentu. Tugas uniti proyek ini akan melibatkan kemampuan siswa dalam berbagai bidang studi.
5) Studi eksperimen
Tugas ekspenmen merupakan jenis tugas yang agak khusus. Tugas eksperimen hanya diberikan oleh guru untuk topik atau pokok bahasan tertentu, yakni topik/pokok bahasan yang menuntut adanya eksperimen. Tugas eksperimen dapat digunakan untuk membutikan atau menemukan informasi.
6) Tugas praktis
Tugas praktis merupakan tugas kepada siswa untuk, memproduksi sesuatu dengan menggunakan ketcrampilan fisik/motoris. Tugas praktis dapat juga berupa latihan keterampilan fisik/motoris.

c. Prosedur Pemakaian Metode Pemberian Tugas
Langkah langkah umum yang dapat diikuti dalam pemakaian metode pemberian tugas adalah sebagai berikut.

1) Persiapan penggunaan metode pemberian tugas, mencakup:
• membuat rancangan pemberian tugas,
• mendiskusikan tugas dengan para siswa,
• membuat lembaran kerja jika, perlu), dan
• menyediakan sumber sumber belajar yang diperlukan untuk meniyelesaikan tugas.
2) Pelaksanaan pemakaian metode pemberian tugas, mencakup :
• menjelaskan tujuan dan manfaat tugas yang diberikan kepada siswa,
• memberikan penjelaskan tentang tugas (terutama mengenai kesulitan yang mungkin dihadapi dan alternatif pemecahannya),
• membantu pembentukan kelompok gika perlu),
• memberikan tugas secara lisan atau tertulis,
• memonitor (mengamati) pelaksanaan dan/atau penyelesaian tugas, dan
• mengandakan diskusi hasil pelaksanaan tugas.
3) Tindak lanjut pemakaian metode pemberian tugas, mencakup
• melaksanakan penilaian hasil pelaksanaan tugas,
• menyimpulkan penilaian proses dan hasil pelaksanaan, dan
• mendiskusikan kesulitan kesuliatan yang tidak dapat diselesaikan oleh siswa selama pelaksanaan tugas.

6. Metode Demonstrasi

Metode demonstrasi merupakan metode yang paling sederhana dan amat bersahaja, Metode ini adalah metode mengajar yang pertama kali digunakan oleh manusia sebagaimana yang dilakukan oleh manusia gua yaitu pada saat mereka menambahkan kayu untuk meperbesar unggun api, sementara anak anak mereka memperhatikan dan menirukannya (Staton, 1978 :91). Metode demonstrasi, walaupun merupakan metode yang paling sederhana, untuk menggunakannya, seorang guru bendaknva benar benar memahaminya sebelum menggunakannya.

a. Pengertian Metode Dernonstrast

Metode demontrasi ditandai dengan adanya kesengajaan untuk mempertunjukkan tindakan atau penggunaan prosedur yang disertai penjelasan, ilustrasi, atau pernyataan secara lisan maupun visual. Cardille (1986) mengemukakan bahwa demonstrasi adalah suatu penyajian yang diperslapkan secara teliti untuk mempertonttonkan sebuah tindakan atau prosedur vang digunakan. MetGde ini disertai dengan penjelasan, ilustrasi, dan pemyataan lisan (oral) atau pemgaan (visual) secara tepat (dalam Carie!, 1986: 38). Winarno mengemukakan bahwa metode demonstrasi adalah adanya scorang guru, orang luar yang diminta, atau siswa memperlihatkan suatu proses kepada seluruh kelas (Winarno, 1980: 87).
Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa metode demonstrasi merupakan format interaksi belajar mengajar yang sengaja mempertunjukkan atau memperagakan tindakan, proses, atau prosedur yang dilakukan oleh guru atau orang lain kepada scluruh siswa atau sebagian siswa.Dengan batasan metode demonstrasi ini, menunjukkan adanya tuntutan kepada guru untuk merencanakan penerapannya memperjelas Demontrasi secara oral ataupun visual, dan menyediakan peralatan yang diperlukan.

b. Tujuan Penerapan Metode Dernonstrasi

Metode demonstrasi dapat digunakan untuk tujuan
1) Mengajar siswa tentang suatu dndakan, proses, atau prosedur keterampil-an keterampilan fisik/motorik.
2) Mengembangkan kemampuan pengarnatan pendengaran dan penglihatan para siswa secara bersama sama.
3) Mengkonkrelkan informasi yang disaftan kepada para siswa.

c. Prosedur Pemakaian Metode Demonstrasi

Langkah langkah yang dapat ditempuh dalam memakai metode demonstrasi adalah sebagai berikut
1) Persiapan pemakaian metode demonstrasi meliputi kegiatan:
• mengkaji kesesuaian metode terhadap tujuan yang akan dicapai,
• analisis kebutuhan peralatan untuk demonstrasi,
• merycoba peralatan dan analisis kebutuhan waktu, dan
• merancang garis garis besar demonstrasi.
2) Pelaksanaan pemakaian metede demonstrasi, meliputi kegiatan:
• mempersiapkan peralatan dan bahan yang diperlukan untuk dembnstrasi,
• memberikan pengantar demonstrasi untuk mempersiapkan para siswa mengikuti demonstrasi, berisikan penjelasan tentang prosedur dan instruksi kearnanan demonstrasi,
• memperagakan tindakan, proses, atau prosedur yang disertai penjelasan, llustrasi, dan pertanyaan.
3) Tindak lanjut pemakaian metode demonstrasi, meliputi kegiatan:
• diskusi tentang tindakan, proses, atau prosedur yang baru saja didemonstrasikan, dan
• memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencoba melakukart segalc hal yang telah didemonstrasikan.

7. Metode Eksperimen

Sebagai suatu metode pengembangan ilmu, metode eksperimen patut diterapkan di sekolah sekolah dasar. Hal ini dimaksudkan agar para siswa sekolah dasar sejak dini mengenal dan mampu melaksanakan eksperimen sederhana. Pemakaian metode eksperimen dalam kegiatan belajar mengajar, akan memberiakan pengalarnan kepada guru tentang adanya potensi yang dapat dikembangkan pada diri siswa. Untuk dapat menggunakan metode eksperimen dengan efektif, maka seorang guru harus dapat menjawab apa dan bagaimana metode eksperimen dalam kegiatan belajar mengajar.
a. Pengertian Metode Eksperimen
Metode eksperimen dimaksudkan sebagai kegiatan guru atau siswa untuk mencoba mengerjakan sesuatu serta mengamati proses dan hasil percobean itu (Winamo, 1980: 87). Dari batasan ini dapat dikemukakan bahwa metode eksperimen merupakan format interaksi belajarmengajar yang melibatkan logikainduksi untuk menyimpulkan pengainatan terhadap proses dan hasil percobaan yang dilakukan. Eksperimen yang dilakukan dalam metode eksperimen dapat dilakukan secara perorangan ataupun kelompok.

b. Tujuan Pemakaian Metode Eksperimen

Pemakaian metode eksperimen dalam kegiatan belajar mengajar bertujuan untuk:
1) mengajar bagaimna menarik kesimpulan dari berbagai fakta, informasi atau data yang berhasil dikumpulkan melalui pengamatan terhadap proses eksperimen.
2) mengajar bagaimana menarik kesimpulan dari fakta yang terdapat pada hasil eksperimen, melalui eksperimen yang sama.
3) melatih siswa merancang, mempersiapkan, me!aksanakan dan melaporkan percobaan.
4) melatih siswa menggunakan logika induktif untuk menarik kesimpulan dari fakta, informasi, atau data ‘yang terkumpul meialui percobaan.

c. Prosedur Pemakaian Motode Eksperimen

Untuk mendapatkan hasil yang optimal dalam memakai metode eksperimen, langkah- langkah berikut ini dapat diikuti.,
1) Mempersiapkan pemakaian metode eksperimen, yang mencakup kegiatan kegiatan:
• menetapkan kesesuaian metode eksperimen terhadap tujuan tujuan yang hendak dicapai,
• menetapkan kebutuhan peralatan, batian, dan sarana lain yangdibutuhkan dalam eksperimen sekaligus memeriksa ketersediaannya di sekolah,
• mengadakan uji eksperimen (guru mengadakan eksperimen sendiri untuk mer.guji ketepatan proses dan hasilnya) sebelurn menugaskan kepada siswa, sehingga dapat diketahul secara pasti kemungkinan kemungkinan yang akan terjadi,
• menyediakan peralatan, bahan, dan sarana lain yang dibutuhkan untuk eksperimen yang akan dilakukan, dan
• menyediakan lembaran kerja (bila dirasa perlu).

2) Melaksanakan pemakaian metode eksperimen, dengan kegiatan kegiatan :
• mendiskusikan bersama seluruh siswa mengenai prosedur, peralatan, dan bahan untuk eksperimen serta hal hal yang perlu diamatai dan dicatat selama eksperimen,
• membantu, membimbing, dan mengawasi eksperimen yang dilakukan oleh para siswa, dan para siswa mengamati serta mencatat hal hal yang dieksperimenkan, dan
• para siswa membuat kesimpulan dan laporan tentang eksperimennya.
3) Tindak lanjut pemakaian metode eksperimen, meliputi kegiatan kegiatan
• mendiskusikan hambatan dan hasil hasil eksperimen,
• membersihkan dan menyimpan peralatan, bahan, atau sarana lainnya, dan
• evaluasi akhir eksperimen oleh guru.

8. Metode Simulasi

Istilah simulasi sering kita dengar dalam kehidupan sehari hari bahkan Anda tentunya pernah terlibat dalam suatu simulasi. Keterlibatan Anda dapat sebagai pemain aktif atau sebagai pengamat, atau sebagai pemegang peran, yang jelas Anda merasakan adanya peran serta Anda dalam simulasi tersebut. Adanya keterlibatan secara aktif dalam simulasi, memungkinkanterjadinya pencapalan tujuan pembelajaran secara lebih efektif dan bermakna. Dengan mempedulikan adanya keaktifan peserta dalam permaianan simulasi atau dalam suatu simulasi, maka sudah selayaknya diketahui tentang mengapa, apa, dan bagaimana metode simulasi oleh seorang guru atau calon guru.
a. Pengertian Metode Simulasi
Simulasi merupakan suatu istilah umum yang berhubungan dengan menyusun dan mengoperasikan suatu mjodel yang mereplikasi proses preses perilaku”( Dawson :1962 dalam Mudjiono, 1992: 80). Kemudian, Clark C. Abt (1964) mengemukakan bahwa: “Suatu simulasi adalah suatu tindakan peniruan dari proses yang nyata” (dalam Mudjiono, 1992:80). Dua batasan tentang simulasi yang dikemukakan sebelurnnya menuntun ke arah ditandainya simulasi sebagai model replikasi dari proses perilaku nyata. Cardille rnengemukakan penemuan beberapa guru yaitu simulasi dan permainan merupakan metode mengajar yang tinggi efektivitasnya dalam menyederhanakan situasi kehidupan, dan menyajikan pengalaman pengalaman yang menintun ke arah diskusi (dalam Cane!, 1986: 45).
Berdasarkan pendapat di atas, dapat ditandai bahwa simulasi berkenaan dengan perilaku berpura pura dan situasi tiruan. Hal ini sepert! dikemulr akan Gilstrap (! 975 : 87) bahwa urtuk menandal semulasi dapat dilihat ada tidaknya satu dari! dua hal berikut ini :(i) Siswa berperilaku sebagai orang lain, dan/atau (ii) Siswa terlibat dalam suatu situasi tiruan.
Batasan metode simulasi di atas membawa kegiatan belaJar mengajar ke arah:
1) terlibatnya siswa secara langsung maupun tidak langsung dalam situasi tertentu,
2) tertampaknya peniruan terhadap suatu proses baik melalui peralatan maupun tanpa peralatan, yang dimaksudkan untuk membuat satausi tiruan, dan
3) perilaku pura pura yang ada pada diri siswa (baik terlibat langsung ataupun yang tidak terlibat langsung).
b. Partisipasi peserta dalam Simulasi
Ditinjau dari keterbatasan siswa dalam pemakaian metode simulasi, terdapat dua macam siswa yaltu
1) pernain, adalah sernua siswa yang terlibat langsung dalam simulasi dan harus beperilaku pura pura, dan
2) penonton, adalah sernu a siswa yang tidak terlibat secara langsung dalam simulasi dan tidak harus berperilaku pura pura.
c. Bentuk-bentuk Simulasi
Dengan memperhatikan batasan metode simulasi di atas, dapat ditandai beberapa kegiatan yang termasuk bentuk wujud dari metode simulasi.
1) Permainan simulasi (simulation games), yakni suatu permainan yang para pemainnya berperan sebagai pembuat keputusan, bertindak seperti jika mereka benar henar terlibat dalani suatu situasi yang sebenarnya, dan/atau berkornpetisi untuk mencapai tujuan tertentu sesuai dengan peran yang ditentukan untuk, mereka..
2) Bermain peran (role playing), yakni memainkan peranan dari peran-peran yang sudah pasti berdasarkan kejadian terdahulu, yang dimaksudkan untuk menciptakan kembali sutasi sejarah peristiwa masa Ialu, menciptakan kemurigkinan kemungkinan kejadian masa yang akan datang, menciptakan peristiwa mutakhir yang dapat dipereaya, atau mengkhayalkan situasi pada suatu tempat dan/atau waktu tertentu. Selain itu, bermain peran juga dapat diartikan sebagai memainkan peran secara spontan dari suatu situasi, kondisi, atau keadaan oleh anggota dari kelompok belajar yang terpilih. Dalam bermain peran seringkali dilengkapi dan/atau didasarkan pada skenario tertentu. Contoh dari bermain peran ini di antaranya adalah : bermain peran penjual pembeli, bermain peran peristiwa proklamasi, atau kegiatan yang sejenis.
3) Sosiodrama (sociodrama), yakni suatu pembuatan pemecahan masalah kelompok yang dipusatkan pada suatu masalah yang berhubungan dengan relasi kemanusiaan. Sosiodrama memberikan kesempatan kepada siswa untuk menentukan alternatif pemecahanmasalah yang timbul dan menjadi perhatian kelompok, Pada sosiodrama, kegiatannya didasarkan pada cerita yang dimiliki oleh salah satu atau beberapa anggota kelompok. Contoh sosiodrama adalah simulasi kerjasama antara siswa di sekolah, simulasi pergaulan siswa dengan teman sebaya, simulasi pergaulan siswa dengan saudara dan orang tuanya di rumah, dan simulasi yang sejenis.
4) Bentuk bentuk. simulasi yang lain, misalnya : psikodrama, mengajar teman sebaya (peer teaching), dramadsasi, dan yang lain.
d. Prosedur Pemakaian Metode Simulasi
Agar guru dapat memakal metode simulasi dengan balk, maka persiapan yang pertama adalah mcinahamt prinsip prnsip pemakaian metodc simulasi yang meliputi :
• Simulasi itu dilakukan oleh kelompok siswa. Tiap kelompok siswa mendapa kesempatan melaksanakan simulasi yang sama atau berbeda, dan semua siswa harus terlibat langsung menurut peranan masing masing
• Penentuan topik simulasi dapat dibiracakan deingan para siswa, dan disesuaikan dengan tingkat kemampuan siswa dan situasi setempat.
• Peraturan/petunjuk simulasi dapat terlebili dahulu disiapkan secara terincl atau secara garis besarnya saja, tergantung dari bentuk simulasi dan tujuannya.
• Hanis diingat bahwa simulasi dimaksudkan untuk latihan keterampilan agar dapat menghadapi kenyataan dengan baik. Hal mi menuntut agar simulasi dapat menggambarkan situasi yang lengkap dan proses yang berturut~turut yang diperkirakan terjadi dalam situasi sesungguhnya.
• Dalam shnulasi hendaknya dapat diusahakan terintegrasinya beberapa ilmu, serta terjadinya berbagal proses seperti sebab akibat, pemecahan masalah, dan yang lain. (Moedjiono, 1992:84:)
Prinsip prinsip seperti dikemukakan sebelumnya, haruslah tertampak pada langkah langkah pemakaian metode simulasi berikut:
1) Memilih sebuah situasi, masalah, atau permaianan yang tepat dalam rnembantu kelompok mencapai tujuan instruksional yang ditentukan, melalui salah satu bentuk simulasi.
2) Mengorganisasikan kegiatan sedemikian rupa sehingga perar. dan tanggung jawab setiap pemerannya jelas, bahan, waktu, serta ruang tepat.
3) Memberikan petunjuk yang jelas untuk para siswa yang terlibat dan menjelaskan bagaimana kegiatan kegiatan ini akan membantu dalam pencapaian tujuan tujuan yang ditentukan.
4) Menjawab pertanyaan pertanyaan yang berhubungan dengan kegiatan.
5) Memilih pemegang peran atau para pemain.
6) Membantu para pemegang peran atau para pemain mempersiapkan diri.
7) Guru menetapkan alokasi waktu yang disediakan untuk simulaisi yang akpn dilakukan.
8) Pelaksanaan simulasi. Selama simulasi guru mensupervisi kegiatan untuk menjamin bahwa peran dan tanggung jawab pemeran terlaksana sesuai dengan peraturan atau petunjuk simulasi. Memberikan motivasi untuk memperbaiki kegiatan, sementara kegiatan berjalan
9) Mengadakan evaluasi kegiatan dan tindak lanjut. Langkah ini mencakup kegiatan:
• penyampaian kritik dan saran dari pengarnat tentang simulasi yang dilaksanakan,
• pengungkapan pendapat pendapat dan saran perorangan,
• penyampaian keslinpulan kesimpulan dan saran dari guru.
Tindak lanjut ini juga dimaksudkan lintuk mengevaluasi sumbangan kegiatan terhadap pencapaian tujuan~tujuan yang ditentukan.
10) Kegiatan ulang. Berdasarkan evaluasi, siswa dapat diminta untuk bersimulasi lagi, mungkin dengan pelaku yang sama atau menunjuk siswa yang lain.
9. Metode Penemuan/ Discovery
Metode penemuan bukanlah merupakan metode pembelajaran yang baru. Diperkirakan sejak awal abad XIX metode menemukan sudah diperkenalkan untuk perfama kali oleh golongan Herbartian (orang orang yang menerapkan pemikiran Herbart). Metode penemuan menjadi penting untuk dipahanil dan dikuasai oleh setiap guru, karena dapqt meningkatkan kadar CBSA dalam kegiatan. belajar~mengajar. Apa dan bagaimana metode menetnuan dapat dikemukakan pada uraian berikut ini.
a. Pengertian Metode Penemuan
Istilah metode penemuan (discovery method) didefinisikan sebagai suatu prosedur yang menekankan belajar secara individual, manipulasi objek atau pengaturan/pengkondisian objek, dan eksperimentasi lain oleh siswa sebelum generalisasi atau penarikan kesimpulan dibuat. Metode iri membutuhkan penundaan penjelasan tentang temuan temlian penting sampai siswa menyadari sebuah konsep (Gilstrap, 1975 : 63). Kemudian, Gage & Berliner (1984: 490) mengutarakan bahwa dalam metode penemuan, para siswa memerlukan penemuan konsep, prinsip dan pernecahan masalah untuk menjadi miliknya lebih daripada sekerjar menerimanya atau pendapatkannya dari seseorang guru atau sebuah buku.
Dari penjelasan di atas,dapat dikemukakan bahwa metode penemuan merupakan komponen dari suatu bagian praktek pendidikan yang seringkali diterjemahkan sebagai mengajar heuristik, yakni suatu jenis mengajar yang meliputi matode metode yang dirancang untuk meningkatkan rentangan keaktifau siswa yang lebih besar, berorientasi pada proses, mengarahkan diri sendiri, mencari sendiri, dan refieksi yang sering muncul sebagai kegiatan belajar.
Metode penemuan memungkinkan para siswa menemukan. sendiri informasi informasi yang diperlukan untuk mencapai tujuan instruksional. Hal ini berarti berimplikasi/ berpengaruh terhadap peranan guru sebagai penyampai inforainsi ke arah peran guru sebagai pengelola interaksi belaJar mengajar di kelas. Namun demikian, metode penemuan dapat pula berupa kegiatan belajar yang terentang dari penemuan terbimbing sampai penemuan lepas. Akhirnya dapat ditandai pula bahwa metode menernuan tidak terlepas dari adanya keterlibatan siswa dalam interaksi belajar mengajar.

b. Prosedur Pemakaian Metode Penemuan
Berdasarkan langkah langkah pemakaian metode penemuan yang disarankan oleh Gilstrap dan Mchard Schuman, Darmo M. dan kawan kawan (1980 : 7) memberikan langkah langkah pemakaian metode penemuan sebagai berikut :
1) Mengidentifikasi kebutuhan siswa.
2) Pemilihan pendahuluan terhadap prinsip prinsip, pengertian, konsep, dan generraiisasi yang akan dipclajari.
3) Pemilihan bahan dan masalah atau tugas tugas yang akan dipelajari,
4) Membantu memperjelas mengenai tugas/masalah yang akan dipelajari dan peranan masing masing siswa.
5) Mempersiapkan tempat dan alat alat untuk penemuan.
6) Mengecek pemahaman siswa tentang masalah yang akan dipecahkan dan tugas tugasnya dalam pelaksanaan penemuan.
7) Memberikan kesempatan kepada siswa untuk melaksanakan penemuan dengan melakukan kegiatan pengumpulan data dan pengolahan data.
8) Membantu siswa dengan informasi/data yang diperlukan oleh siswa untuk kelangsungan kerja mereka, bila siswa menghendakinya.
9) Membimbing para siswa menganalisis sendiri dengan pertanyaan mengarahkan dan mengidentifikasi proses yang digunakan.
10) Membesarkan hati dan memuji siswa yang ikut serta dalam proses penemuan.
11) Membantu siswa inerumuskan kaidah, prinsip, ide, generalisasi, atau konsep berdasarkan hasil penemuannya.

10. Metode Pengajaran Unit
Metode pengajaran unit sudah sejak larna dikenal dalam dunia pendidikan. Metode pengajaran unit yang dapat mengembangkan aspek kognitif, sekaligus aspek keterampilan dan aspek sikap, akan mampu mellbatkan siswa secara fisik maupun psikis dalam kegiatan belajar-mengajar. Keterlibatan siswa yang tinggi akan pengajaran unit disebabkan kegiatan kegiatannya dilaksanakan siswa, sedangkan guru hanya bertindak sebagai pembimbing. Agar dapat menerapkan metode pengajaran unit secara efektif dan efisien, maka guru dituntut untuk benarbenar menguasainya dengan balk.
a. Pengertian Metode Pengajaran Unit
Metode pengajaran unit disebut juga Temiatik Onderwi/s di negeri Belanda, scdangkan di beberapa tempat di Indonesia lebih dikenal dengan nama Unit Teaching. Dari nama unit teaching inilah kemudian di-Indonesiakan menjadi pf!ngajaran unit, yang diartikan sama dengan metode proyeknya Dewey.
Metode pengajaran unit dapat diartikan sebagai suatu cara belajar mengajar di mana siswa dan guru mengarahkan kegiatan pada pemecahan suatu masalah yang telah dirumuskan lebih dahulu secara bersama sama (Moedjiono, 1992: 90).
Dari hatasan ini jelaslah bahwa metode pengajaran unit berpusat pada pemecahan masalah. Untuk melakukan pemecahan masalah secara tuntas, serhlgkali menierlukan pemecalian dari berbagai aspek dalain kegiatan belajar mengajar kmungkinan akan melibatkan satu atau lebbih bidang studi. Pengajaran unit yang kegiatannya berupa pemecahan masalah yang melibatkan beberapa topik dalam satu bidang studi disebut jaringan topik.
b. Prosedur, pemakaian Metode Pengajaran Unit
Sebelum menggunakan metode pengajaran unit, sebaiknya guru menyadari adanya prinsip-prinsip pemakaiarniya yang meliputi: (i) Prinsip kerja sama; (ii) Prinsip integrasi disiplin ilmu; (iii) Prinsip mangajar beregu (team teaching); dan (iv) Prinsip berorientasi pada siswa.
Keempat prinsip ini tendaknya benar.benar ter~arnpak dalam ve.rria! .aian metode peagajaran unit. Prosedur pemakaian metode pengajaran unit terdiri dari tiga langkah utama, yakni

1) Langkah perencanaan
Langkah perencanaan hendaknya dilaksanakan oleh guru bersama para siswa.
Kegiatannya adalah :
• Bila para siswa baru untuk periama kali terlibat dalam belajar melalui pengajaran unit, mereka terlebih dahulu harus diberitahu tentang bagaimana cara belajar melalui unit. Guru membangkitkan minat dan memusatkan perhatian siswa dengan cara bertanya, berceritera, membicarakan/mengomentari gambar gambar yang dibawa oleh guru.
• Guru dan siswa menetapkan pokok masalah yang akan dijadikan unit dengan syarat bahwa pokok masalah tersebut sesuai minat, bakat, maupun latar belakang siswa. Pokok masalah ini penting dilihat dari segi kurikulum dan pendidikan serta kebutuhan siswa. Pokok masalah ini hendaknya banyak memberikan alternatif sumber belajar yang tersedia untuk menyelesaikannya.
• Guru bersama siswa menetapkan aspek aspek pokok masalah. Dalam hubungan ini ditetapkan pula bidang studi atau disiplin ilmu yang akan diintegrasikan untuk memecahkan masalah.
• Guru bersama siswa menetapkan tujuan setiap aspek pokok masalah secara terinci. Tujuan yang dimaksud adalah Tujuan Khusus Pembelanjaran (TKP).
• Guru dan siswa menetapkan kelompok kelompok kerja yang biasanya disesuaikan dengan banyaknya aspek masalab/unit.
• Guru dan siswa mcinetapkan organisasi kelas.
• Guru dan siswa menetapkan tugas tugas secara terinci baik tugas kelompok maupun tugas individu. Untuk kepentingan ini perlu dibuatkan daftar tugas yang kolom kolomnya paling tidak memuat: nama siswa, tugas, tanggal memulai dan mengakhiri tugas, serta sumber belajar yang dimanfaatkan.
• Guru dan siswa menetapkan langkah4angkahdanjenis jenis kegiatan untuk waktu yang akan datang.
2) Langkah pelaksanaan
Langkah ini menunjuk kepada dimulainya pelaksanaan rencana yang sudah disusun pada langkah awal. Kegiatannya yaitu:
• Para siswa mengatur tempat mereka belajar/bekerja apakah di dalam kelas atau di luar kelas.
• Para siswa mulai mempelajari aspek aspek niasalah yang menjadi tugasnya masing masing
• Para siswa mengadakan diskusi, mengatur isi permasalahan, mengkoordinasikan dengan kelompok lain, sehingga tugas menjadi tuntas dan sempurna.
• Para siswa menyiapkan laporan kelompok untuk disajikanan oleh kelompok pada waktu diskusi kelas atau pleno.
3) Langkah kulminasi dan penilaian
Sesuai dengan namanya, langkah ini merupakan puncak dari kegiatan. Hasil kerja sama kelompok atau individu, padalangkahini harus dikomunikasikan baik secara intern kelompok maupun antarkelompok. Langkah ini dimaksudkan untuk melihat apa yang diketahul, apa yang diperoleh, dan apa yang ditemukan oleh individu/kelompok, dapat pula menjadi milik individulkelompok lain. Dengan kata lain, hasil pengajaran unit harus menjadi milik bersarna. Pada langkah kulminasi, kegiatannya dapat berbentuk
• Presentasi laporan dari masing masing individu atau kelompok tentang hasil kerjanya dalam suatu sidang pleno, sehingga semua siswa dapat belajar dari individu atau kelompok lain.
• Pameran, yaitu penyajian semua hasil dari para siswa selama proses belajar melalui pengajaran unit. Pameran ini sebaiknya dalam dua bentuk yakni bentuk statis dan bentuk dinamis. Pada kesempatan pameran ini, sebaiknya diumumkan ke kelas kelas yang lain untuk dapat menghadiri pameran yang diselenggarakan.
• Langkah kulminasi ini perlu diikuti oleh penilalan hasil pengajaran unit, di mana penilaian hasil ini kemudian digabungkan dengan penilaian proses pengajaran unit yang telah dilaksanakan sejak pelaksanaan. Penilaian ini hendaknya dilakukan oleh tim/kelompok guru yang menjadi pembimbing dan juga para siswa sendiri.Alat yang dapat digunakan untuk pchilaian ini adalah tes, lembar observasi, daftar cek, soslometriks, dan yang lain.
1. Metode Pemberian Tugas
Metode pemberian tugas merupakan metode pemberian kesempatan kepada siswa untuk melaksanakan tugas berdasarkan petunjuk langsung yang telah dipersiapkan guru. Dengan metode ini siswa dapat mengenali bahan pelajaran secara nyata. Tugas dapat diberikan secara kelompok atau perseorangan. Hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan metode Pemberian Tugas adalah fungsi, sifat, dan bentuk tugas yang diberikan serta tingkat kemampuan siswa untuk melaksanakan tugas tersebut. Tugas yang dikerjakan siswa perlu diperiksa.

2. Metode Eksperimen
Metode eksperimen ialah metode pemberian kesempatan kepada perseorangan atau kelompok, untuk melatih melakukan suatu proses atau percobaan’ Dengan metode ini, siswa diharapkan sepenuhnya terlibat untuk merencanakan eksperimen melakukan eksperimen, menemukan fakta, mengumpulkan data, mengendalikan variabel, dan memecahkan masalah yang dihadapinya secara nyata.
Dengan metode eksperimen diharapkan siswa tidak menelan begitu saja sejumlah informasi yang diperolehnya dan membandingkannya dengan fakta yang ditemukan dalam percobaan yang dilakukannya.
Dengan metode ini, sekaligus dapat dikembangkan berbagai keterampilan, antara lain keterampilan mengamati, mengklasifikasi, merumuskan pertanyaan, menghitung, mengukur, mencari hubungan ruang/waktu, mengendalikan variabel, menginterpretasi data, membuat inferensi, meramalkan, menerapkan, dan mengkomunikasikan.
Beberapa hal yang yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan metode eksperimen, antara lain:
a. Bentuk eksperimen hendaklah dipilih yang menumbuhkan keterampilan proses;
b. Persiapan/pengaturan laboratorium/kelas serta sarana yang akan digunakan, hendaklah dilakukan sebaik baiknya.
c. Keselamatan kerja, disiplin kerja dan tata tertib hendaklah diutamakan;
d. Rencana kerja dan laporan hendaklah dibuat secarajelas.

3. Metode Proyek
Metode proyek ialah suatu cara mengajar yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk menggunakan unit unit kehidupan sehari hari sebagai bahan pelajarannya. Tujuannya agar siswa tertarik untuk belajar. Pelajaran melalui metode proyek dilakukan dengan cara menghubungkan sebanyak mungkin pengetahuan bahan pelajaran, ditinjau dari berbagai mata pelajaran. Dengan metode ini siswa dapat menelaah suatu materi pelaiaran dengan wawasan yang lebih luas.
Melalui metode ini dapat dikembangkan antara lain keterampilan mengamati, menghitung, mengklasifikasi, mencari hubungan/waktu, menemukan pola, menyusun hipotesis, merencanakan penelitian, menafsirkan data, menarik kesimpuIan, meramalkan, menerapkan konsep, dan mengkomunikasikan.
Beberapa hat yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan metode proyek ialah
a. Perencanaan
Perlu menentukan suatu pokok bahasan sebagai unit bahan pelajaran yang berkaitan dengan mata pelajaran lain. Sediakan format-¬format pengamatan atau lembaran keba siswa yang diperlukan.
b. Pelaksanaan
Langkah langkah pelaksanaannya adalah :
①. Menjelaskan tema proyek.
②. Membagi tugas secara jelas.
③. Mengumpulkan data/informasi yang berhubungan dengan tema proyek.
④. Mengolah data/informasi yang didapat.
⑤. Menyusun laporan.
⑥. Menyerahkan dan mem¬pertanggungjawabkan laporan.
c. Tindak I anjut
Tindak lanjut dapat dilaksanakan dengan menyelenggarakan pameran atau melaksanakan pajangan kelas.
d. Penilaian
Penilaian dilakukan untuk memperoleh gambaran ke¬mampuan siswa melalui proses belajar mengajar dengan metode proyek. Penilaian dapat dilakukan secara lisan dan/atau tertulis baik per¬seorangan maupun kelompok

4. Metode Diskusi
Metode diskusi ialah suatu cara penguasaan bahan pelajar¬an melalui tukar pendapat berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang telah diperoleh masing masing siswa guna memecahkan suatu masalah.
Melalui diskusi dapat dikembangkan antara lain keterampilan : mengamati, mengkiasifikasi, menyusun hipotesis, menginterpretasi, menarik kesimpulan, dan mengkomunikasikan. Selain itu dikembangkan pula sikap sikap tertentu, seperti berani mengemukakan pendapat dan menghargai pendapat orang lain.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melaksana¬kan metode diskusi, antara lain:
a. Perurrusan masalah atau masalah¬masalah yang didiskusikan supaya dilakukan bersama sama dengan siswa;
b. Menjelaskan hakikat masalah itu disertai tujuan mengapa masalah tersebut dipilih untuk didiskusikan;
c. Pengaturan peran siswa, yang meliputi pemberi tanggapan, saran, pendapat, pertanyaan dan jawaban yang timbul untuk memecahkan masalah;
d. d Memberitahukan tata tertib diskusi;
e. Pengarahan/pembicaraan agar sesuai dengan tuiuan;
f. Pemberian bimbingan terhadap siswa untuk mengambil kesimpulan.

5. Metode Karyawisata
Metode karyawisata ialah suatu cara untuk penguasaan balian pelajaran oleh para siswa dengan jalan membawa mereka langsung kepada objek yang terdapat di luar kelas (atau di lingkungan kehidupan nyata), agar mereka dapat mengalami atau mengamati secara langsung.
Metode karyawisata diterapkan antara lain karena objek yang akan dipelajari hanya terdapat di tempat tertentu. Selain itu, pengalaman langsung dapat membuat siswa lebih tertarik kepada pelajaran yang disajikan sehingga siswa lebih ingin mendalami ihwal yang diminati dengan mencari informasi dari buku buku sumber lainnya serta menumbuhkan rasa cinta kepada alam sekitar. Metode karyawisata berfungsi pula memberikan hiburan kepada siswa. dan rekreatif. ,
Melalui metode ini dapat dikembangkan antara. lain keterampilan : mengamati, menghitung, mengukur, mengklasifikasi, mencari hubungan ruang/ waktu, merencanakan penelitian, dan membuat suatu model.
Berikut ini dikemukakan beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan metode karyawisata.
a. Persiapan
Persiapan hendaknya dilakukan bersama sama dengan para siswa, agar mereka terlibat sepenuhnya dalam kegitan yang akan dilaksanakan. Persiapan yang baik akan menunjang kelancaran pelaksanaan karyawisata.
Kegiatan persiapan meliputi
1) Penentuan tuiuan, objek, lokasi, waktu, teknik pelaksanaan karyawisata dan teknik penyusunan laporan.
2) Pembagian dan pemberian tugas kepada kelompok siswa untuk menghubungi instansi/pejabat yang berwenang yang berhubungan dengan objek yang akan dikunjungi. Mengadakan orientasi keadaan lokasi objek, serta mempersiapkan bahan bahan dan perlengkapan yang diperlukan.
3) Penentuan kelompok/dan tugas tugas kelompok.
4) Penjelasan tata tertib yang harus diikuti.
b. Pelaksanaan
Dalam pelaksanaannya siswa akan melakukan tugas perseorangan atau kelompok sesuai dengan perencanaan. MisaInya mengamati, berwawancara, bertanya, mencatat, serta mencari informasi sebabanyak banyaknya dari berbagai sumber yang ada. Dalam pelaksanaan ini siswa harus dibimbing agar semua aktif dalam kegiatan.
c. Tidak Lanjut
Di kelas dapat dilakukan diskusi antarkelompok dengan didahului mengemukakan hasil yang diperoleh kelompok tersebut untuk melengkapi informasi sebagai bahan laporan tertulis.
Hasil karyawisata dan laporan dapat berupa ash atau tiruan, gambar gambar dengan beberapa catatan, skema, diagram dan karangan atau tulisan. Semua ini hendaki nya dipajang di dalam kelas, atau tempat tertentu

6. Metode Bermain Peran
Metode bermain peran ialah suatu cara penguasaan bahanbahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa. Pengembangan imajinasi. dan penghatan ini dilakukan siswa dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati. Dengan kegiatan memerankan akan membuat siswa lebih meresapi perolehannya.
Melalui metode ini antara lain dapat dikembangkan keterampilan keterampilan : mengamati, menarik kesimpulan, menerapkan, dan mengkomunikasi-kan.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan metode bermain peran, antara lain :
a. Penentuan topik.
b. Penentuan anggota pameran.
c. Pembuatan lembaran kerja (kalau perlu).
d. Latihan singkat dialog (kalauperlu).
e. Pelaksanaan permainan peran.

7. Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi adalah suatu cara mengajar dengan “mempertunjukkan sesuatu” atau mendemonstrasikan sesuatu. Hal yang dipertunjukkan dapat berupa rangkaian percobaan, model alat, atau keterampilan tertentu. Dengan metode ini siswa dituntut memperhatikan suatu objek atau proses yang didemonstrasikan. Dengan metode ini antara lain dapat dikembangkan keterampilan keterampilan : mengamati, mengklasifikasi, membuat inferensi, menarik kesimpulan, menerapkan, dan mengkomunikasikan. Demonstrasi ini dapat dilakukan oleh guru atau siswa secara berkelompok atau klasikal.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan metode demonstrasi, antara lain :
a. Penetapan tujuan demonsrasi
b. Persiapan alat dan kelas yang akan digunakan.
c. Pembuatan lembaran kerja.
d. Pembuatan laporan hasil ke¬giatan.

8. Metode Ceramah
Metode ceramah adalah suatu cara. mengajar atau penyajian materi melalui penuturan dan peneranga.n lisan oleh guru kepada siswa. Agar siswa aktif dalam proses belajar mengajar yang menggunakan metode ceramah, maka siswa perlu dilatih mengembangkan keterampilan mental untuk memahami suatu proses yaitu dengan mengajukan pertanyaan, memberikan tanggapan, dan mencatat penalarannya secara sistematis.
Beberapa hal yang perlu di¬perhatikan dalam pelaksanaan metode ceraman antara lain :
a. Penyiapan bahan pelajaran secara matang/mantap.
b. Pemberitahuan tujuan pelajaran kepada siswa.
c. Penjelasan garis garis besar materi pelajaran.
d. Pengajuan pertanyaan sebagai konsep prasyarat.
e. Penyajian pelajaran dengan menekankan bagian bagian yang penting, ditunjang dengan tanya jawab dan/alau peragaan.
f. Penilaian pemahaman siswa dengan mengajukan pertanyaan pertanyaan pokok.
g. Pemberian tanggapan, penghargaan dan umpan balik.terhadap jawaban atau hasil peke~aan siswa.
h. Pembuatan rangkuman hasil ceramah.

9. Metode Tanya Jawab
Metode tanya jawab adalah suatu cara, penyajian bahan pelajaran melalui berbagai bentuk pertanyaan yang perlu dijawab oleh siswa. Dengan metode ini antara, lain dapat dikembangkan keterampilan keterampilan: mengamati, menginterpretasi, mengklasifikasi, membuat inferensi, menarik kesimpulan, menerapkan, dan mengkomunikasikan.
. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan metode tanya jawab, antara, lain :
a. Persiapan semua bentuk pertanyaan yang akan digunakan dengan cermat.
b. Pertanyaan harus singkat dan jelas.
c. Penetapan waktu yang cukup kepada siswa untuk merumuskan dan/atau memikirkan jawabannya.
d. Pemberian gifiran kepada siswa untuk menjawab secara, acak dengan menyebutkan namanya.

10. Metode Bercerita
Metode bercerita adalah suatu cara Mengajar dengan cara bercerita. Pada hakikatnya metode bercerita sama dengan metode ceramah, karena informasi disampaikan melalui penuturan atau, penjelasan lisan dari seseorang kepada orang lain.
Dalam metode bercerita, baik guru ataupun siswa dapat berperan sebagai penutur. Guru dapat menugaskan salah seorang atau beberapa siswa untuk menceritakan suatu peristiwa atau suatu topik.
Salah satu bentuk metode bercerita adalah membaca cerita.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan metode bercerita, antara lain :
a. Kejelasan arah dan tujuan cerita.
b. Bentuk penyampaian dan sistematika cerita.
c. Tingkat kemampuan dan perkembangan anak (sesuai dengan usia anak).
d. Situasi dan kondisi kelas.
e. Penyimpulan hasil cerita.

11. Metode Sosiodrama
Metode sosiodrama adalah cara, mengajar yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan kegiataA memainkan peranan tertentu seperti yang terdapat dalam, kehidupan masyarakat (kehidupan sosial). Seperti metode bermain peran. Dalam, metode sosiodrama siswa dibina agar terampil mendramatisasikan atau mengekspresikan sesuatu yang dihayati. Penggunaan lembar pengamatan perlu dipergunakan untuk mengetahui pencapaian TIK yang telah ditentukan. Dalam pelaksanaannya lembar pengamatan dapat a a ” YANG TIDAK memainkan. peran (penonton). dengan metode ini antara lain dapat dikembangkan keterampilan keterampilan mengatasi, menginterpretasi, mengkomunikasikan, menerapkan, dan menyimpulkan.
Pada. prinsipnya metode sosiodrama ini hampir sama dengan metode bermain peran. Perbedaannya dapat dilihat pada gambaran beri kut ini : ,
SOSIODRAMA
①. Persiapan
• tema biasanya lebih luas dan dapat dilengicapi dengan garisgaris besar lakon yang akan dibawakan.
• dapat dipersiapkan naskah/ skenario.
• siswa pemeran dipersiapkan dengan. baik sebelum jam pelajaran/pelaksanaan sosiodrama.
• dapat dipersiapkan perlengkapan, misalnya pakaian, ruang, dan peralatan lainnya

②. Pelaksanaan
• pelaksanaan penampilan pemeran yang telah dipersiapkan (dilatih) dengan menggunakan perlengkapan tertentu.
• lebih berciri pencanan perolehan (konsep/nilai/kete¬rampilan tertentu), karena itu biasanya dilaksanakan pada seluruh jam pelajaran.
• waktu relatif lebih panjang.
BERMAIN PERAN
①. Persiapan
• tema biasanya hanya berupa topik atau konsep.
• Tidak diperlukan naskah/skenario
• pameran memainkan peran secara spontan, para pemeran ditentukan pada jam pelajaran yang bersangkutan.
• tidak perlu perlengkapan secara khusus.
①. Pelaksanaan
• Bermain peran secara spontan setelah ditunjuk sebagai anggota pemeran tanpa persiapan dan perlengkapan khusus.
• lebih berciri ungkapan perolehan (konsep/nilai/kete¬rampilan tertentu), karena itu biasanya dilaksanakan. pada akhir pelaiaran.
• waktu relatif pendek/singkat.

Kamus kecil:
1. pilot project = proyek perintis
2. resettlement = pemukiman kembafi
3. role playing – main peran

Referensi
Alma, Buchori & M.Harlas Gunawan AP. 2000. Hakekat Studi Sosial. Jakarta: Depdikbud
Al Muhtar, Swarma. 2004. Pengembangan Berpikir dan Nilai dalam Pendidikan IPS. Bandung: Gelar Pustaka Mandiri
Hasan, S.Hamid, 1991 Model Pengajaran untuk IPS. Bandung : Tanpa penerbit
Moedjiono & Moh.Dimyati, Stategi Belajar Mengajar. Jakarta: Depdikbud RI
Somantri, Muhamad Niman. 2001. Menggagas Pembaharuan Pendidikan IPS. Bandung: Remaja Rosda Karya.
Suciati, 2002. Belajar dan Pembelajaran 2. Jakarta : UT
Sukmadinata, Nana Saodih. 1997. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. Bandung : Remaja Rosda Karya
Wahab, Abdul Azis. 1997. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.Jakarta: Depdikbud RI.
Winataputra, Udin S, 2002. Materi dan Pembelajaran IPS SD, Jakarta: UT